toaz.info-pangeran-kecil-le-petit-prince-pr_2e00413b27a1b6f034f28a318edf8d35 - PDF to Flipbook
Published on Sep 14, 2026
Description:
ANTOINE DE SAINT-EXUPERY
Pangeran Cilik
DENGAN ILUSTRASI OLEH PENGARANG
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2011KoMPAS GrAMEDIA
LE PETIT PRINCE
by Antoine de Saint-Exupery Copyright © 1943 by Antoine de Saint-Exupery All rights reserved
PANGERAN CILIK
Diterjemahkan oleh Henri Chambert-Loir GM 402 01 11 0100 Hak cipta terjemahan Indonesia: © H. Chambert-Loir, 2011 Dengan
ilustrasi oleh Antoine de Saint-Exupery Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI Jakarta,
Desember 2011
Diterbitkan atas kerja sama dengan Forum Jakarta-Paris. Cet ouvrage beneficie du soutien de l'Ambassade de France en Indonesie.
Buku ini diterbitkan dengan bantuan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.
120 him; 20 cm
ISBN 989-979-22-7694-7
r Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 \
Tentang Hak Cipta
Lingkup Hak Cipta
Pasal 2:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis
setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana:
Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rpl.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling
lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak
terkait sebagai mana dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau
. denda paling banyak Rp500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah)._J
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan
Kepada Leon Werth
Kepada anak-anak aku mohon maaf, karena mempersembahkan buku ini kepada seorang dewasa. Akumempunyai alasan yang kuat: orang dewasa itu adalah temanku yang terbaik di dunia. Aku mempunyai
alasan lain: orang dewasa itu dapat memahami segalanya, termasuk buku untuk anak-anak. Aku
mempunyai alasan ketiga: orang dewasa itu tinggal di Prancis, ia lapar dan kedinginan. Ia betul-betul
perlu dihibur. Jika semua alasan itu tidak cukup, aku bersedia mempersembahkan buku ini kepada
anak yang kemudian menjadi orang dewasa itu. Semua orang dewasa pernah menjadi anak-anak.
(Sekalipun hanya sedikit yang ingat.) Jadi persembahanku ini kuperbaiki:
Kepada Leon Werth ketika ia masih kecil
KETIKA berumur enam tahun, aku pernah melihat gambar yang hebat dalam buku tentang rimba raya
berjudul Kisah-Kisah Nyata. Gambar itu melukiskan seekor ular sanca yang sedang menelan seekor
binatang buas. Inilah tiruan gambar itu.
Dalam buku ini dijelaskan: "Ular sanca menelan mangsanya bulat-bulat tanpa mengunyahnya.
Kemudian, mereka tidak mampu bergerak lagi dan tidur selama enam bulan untuk mencerna
mangsanya."
Maka aku lama berpikir tentang kejadian luar biasa di rimba raya, dan dengan sebuah pensil
berwarna aku pun berhasil membuat gambarku yang pertama. Gambarku nomor satu. Rupanya seperti
ini:
Karya agungku itu kuperlihatkan kepada orang-orang dewasa, dan aku menanyakan, apakah gambar itu
menakutkan mereka.
Mereka menjawab, "Mengapa harus takut pada topi?"
Gambarku tidak melukiskan topi, tetapi ular sanca yang sedang mencernakan gajah. Maka aku
menggambar bagian dalam ular sanca itu, supaya orang dewasa dapat mengerti. Mereka selalu
membutuhkan penjelasan. Gambarku nomor dua seperti ini:Orang dewasa memberi aku nasihat agar mengesampingkan gambar ular sanca terbuka atau tertutup,
dan lebih banyak memperhatikan ilmu bumi, sejarah, ilmu hitung, dan tata bahasa. Demikianlah, pada
umur enam tahun, aku meninggalkan sebuah karier cemerlang sebagai pelukis. Semangatku patah
karena kegagalan gambarku nomor satu dan nomor dua. Orang dewasa tidak pernah mengerti apa-apa
sendiri, maka sungguh menjemukan bagi anak-anak, perlu memberi penjelasan terus-menerus.
Jadi aku harus memilih profesi lain dan aku belajar mengemudikan pesawat terbang. Aku telah
terbang ke mana-mana di dunia. Ternyata benar, ilmu bumi memang berguna bagiku. Dalam sekejap
mata aku dapat membedakan Cina dan Arizona. Ini sangat berguna bila kita tersesat pada waktu
malam.
Demikianlah aku banyak berhubungan dengan banyak manusia yang serius sepanjang hidupku. Aku
lama hidup di tengah orang-orang dewasa. Aku telah melihat mereka dari dekat. Hal itu tidak banyak
menambah penilaianku akan mereka.
Kalau berjumpa dengan seorang dewasa yang tampaknya sedikit cerdas, aku mengujinya dengan
gambarku nomor satu, yang dari dulu kusimpan. Aku ingin tahu apakah ia betul-betul punya
pengertian. Tapi jawabnya selalu, "Ini topi." Maka aku tidak bercerita tentang ular sanca atau hutan
belantara ataupun bintang-bintang. Aku menyesuaikan diri dengan kemampuannya. Aku berbicara
tentang bridge, golf, politik, dan dasi. Dan orang dewasa itu merasa senang mengenal seseorang yang
begitu berbudi.
BEGITULAH aku hidup sendirian, tanpa seorang pun teman yang benar-benar dapat kuajak bicara,
sampai saat pesawat terbangku mogok di tengah Gurun Sahara, enam tahun yang lalu. Ada sesuatu
yang patah dalam mesin. Dan karena aku tidak membawa montir maupun penumpang, aku bersiap-siap
mengerjakan, seorang diri, suatu perbaikan yang sulit. Bagiku itu persoalan hidup atau mati.
Perbekalan air minumku paling-paling cukup buat seminggu saja.
Malam pertama aku tertidur di atas pasir, seribu mil jauhnya dari pemukiman manusia mana pun. Aku
lebih terpencil dari seorang korban kecelakaan kapal, di atas rakit di tengah lautan. Maka dapat kalian
bayangkan betapa terkejut aku, ketika waktu subuh, aku terbangun oleh suatu suara lembut dan ganjil.
Katanya,
'Tolong... tolong gambarkan aku seekor domba "
"Apa?""Gambarkan aku seekor domba..."
Aku tersentak berdiri bagaikan disambar petir. Aku mengucek-ucek mataku berulang-ulang. Aku
memandang dengan hati-hati. Dan aku melihat seorang bocah luar biasa yang sedang menatapku
dengan sungguh-sungguh. Inilah potretnya terbaik yang berhasil kubuat kemudian Tetapi gambarku
tentu saja tidak secakap orangnya. Bukan salahku. Dalam karierku sebagai pelukis, semangatku
dipatahkan oleh orang dewasa waktu aku berumur enam tahun, dan aku tidak pernah belajar melukis
selain menggambar ular sanca tertutup dan terbuka.
Maka aku memandang keajaiban itu dengan mata terbelalak keheranan. Jangan lupa aku berada seribu
mil dari pemukiman orang! Sedang bocah itu sama sekali tidak kelihatan tersesat atau sekarat karena
kecapekan, kelaparan, kehausan, ataupun ketakutan. Ia sama sekali tidak tampak seperti seorang anak
yang tersesat di tengah-tengah gurun, seribu mil jauhnya dari pemukiman orang. Ketika akhirnya
berhasil bicara, aku bertanya, "Tapi... apa yang kaulakukan di sini?" Maka ia kembali berkata dengan
amat lembut, seolah-olah sesuatu yang penting sekali,
"Tolonglah... gambarkan aku seekor domba." Apabila suatu keajaiban terlalu memukau, kita tidak
berani membantah. Betapapun tidak masuk akal, seribu mil jauhnya dari pemukiman orang dan
terancam bahaya mati, aku mengeluarkan sehelai kertas dan sebatang pena dari kantongku. Tetapi pada
saat itu aku teringat bahwa yang kupelajari terutama ilmu bumi, sejarah, ilmu hitung, dan tata bahasa,
dan aku katakan kepada bocah itu (dengan nada sedikit kesal) bahwa aku tidak pandai menggambar.
Jawabnya, "Tak apalah. Gambarkan aku seekor domba." Karena belum pernah menggambar domba,
maka kubuatkan untuknya salah satu dari kedua lukisan yang mampu kubuat, yaitu ular sanca tertutup.
Dan aku tercengang mendengar bocah itu berkata,
"Bukan, bukan! Aku tidak mau seekor gajah dalam perut ular sanca. Ular sanca sangat berbahaya, dangajah mau ditaruh di mana? Tempatku kecil sekali. Aku membutuhkan seekor domba. Gambarkan aku
seekor domba."
Maka aku pun menggambar.
Ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh, kemudian: "Bukan. Yang ini sudah sakit parah. Buatlah
yang lain." Aku menggambar. Temanku tersenyum manis, penuh maklum,
"Lihat sendiri, bukan domba, tapi biri-biri jantan. Ia bertanduk..." Aku menggambar lagi. Tapi
ditolaknya, seperti yang sebelumnya:
"Yang ini terlalu tua. Aku ingin domba yang dapat hidup lama." Maka karena kurang sabar dan harus
segera membongkar mesinku, aku membuat coretan ini.
Tetapi aku heran melihat wajah penilai muda itu menjadi cerah.
"Ini persis yang kuinginkan! Apakah perlu banyak rumput untuk domba ini menurutmu?"
"Mengapa?""Karena tempatku kecil sekali..."
"Pasti cukup. Aku memberimu domba yang sangat kecil."
Ia menunduk ke atas gambar itu.
"Tidak sekecil itu... Lihat! la tertidur..."
Begitulah mulanya aku berkenalan dengan Pangeran Cilik.
AKU membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui dari mana asalnya. Pangeran Cilik yang banyak
bertanya ini tampaknya tidak pernah mendengar pertanyaanku. Hanya kata-kata yang diucapkannya
secara kebetulan, yang sedikit demi sedikit mengungkapkan segalanya. Misalnya, ketika ia melihat
pesawat terbangku untuk pertama kali (aku tidak akan menggambar pesawat terbangku, jauh terlalu
sukar untukku), ia bertanya,
"Benda apa ini?"
"Ini bukan benda. Bisa terbang. Ini pesawat terbang. Ini pesawat terbangku."
Dan aku bangga menjelaskan aku dapat terbang. Ia berseru,
"Apa? Kamu jatuh dari langit?"
"Ya," jawabku dengan rendah hati.
"Ai, lucu..."
Dan meledaklah tawa renyah Pangeran Cilik, yang
membuatku tersinggung. Aku ingin orang menanggapi ke-ma 1 anganku dengan serius. Lalu tambahnya
lagi,
"Jadi kamu juga datang dari langit! Dari planet yang mana?"
Tiba-tiba tampak kecerahan tentang misteri kehadirannya, dan aku mendadak bertanya, "Jadi kamu
datang dari planet lain?" Tetapi ia tidak menjawab, la mengangguk pelan-pelan sambil menatap
pesawat terbangku.
"Jelas dengan ini kamu tidak mungkin datang dari jauh..."Dan ia tenggelam dalam lamunan panjang. Kemudian ia mengeluarkan dombaku dari kantongnya dan
lama merenungi hartanya itu.
Dapat kalian bayangkan betapa terpancing aku karena rahasia yang baru terbuka tentang "planet-planet
lain" itu. Maka aku berusaha mengetahui lebih banyak:
"Dari mana kamu datang, Nak? Di mana 'tempatmu' itu? Hendak kamu bawa ke mana dombaku?"
Setelah berpikir-pikir sejenak ia menjawab,
"Bagusnya peti yang kamu berikan ini, akan dipakai sebagai rumah pada waktu malam.
"Tentu saja. Dan kalau kamu baik-baik, akan kuberikan juga tali untuk menambatkannya pada siang
hari. Dan sebuah pancang juga."
Pangeran Cilik seolah-olah tersinggung oleh gagasan itu:
"Menambatkannya? Aneh pikiran ini!"
"Tapi jika kamu tidak menambatnya, ia akan pergi ke mana-mana, nanti tersesat."
Tawa temanku meledak lagi."Pergi ke mana menurutmu?"
"Ke mana saja. Lurus ke depan..."
Maka Pangeran Cilik berkata dengan nada berat,
"Biarkan saja, begitu kecil tempatku!"
Dan dengan nada sepertinya sedikit murung, ia menambah,
"Lurus ke depan, tidak dapat terlalu jauh..."
DEMIKIANLAH aku mengetahui hal kedua yang sangat penting: bahwa planet asalnya tidak lebih besar
dari sebuah rumah!
Aku tidak perlu terlampau heran. Aku sudah tahu bahwa, selain planet-planet besar seperti Bumi,
Yupiter, Mars, dan Venus,
yang telah diberi nama, ada ratusan planet lain yang kadang-kadang demikian kecil sehingga sukar
dilihat dengan teleskop. Bila seorang astronom menemukan salah satu planet itu, ia memberinya nama
dengan angka. Ia menamakannya Asteroid 3251, misalnya.