cjr rapa - PDF to Document
Published on Sep 02, 2026
Description:
Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia
Volume 4 Nomor 1 bulan Maret . Halaman 31-38
p-ISSN: 2477-5916 e-ISSN: 2477-8370
31
Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia is licensed under
A Creative Commons Attribution-Non Commercial 4.0 International License.
PELAKSANAAN PROGRAM BIMBINGAN BELAJAR
DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI KOTA PONTIANAK
Tri Mega Ralasari S1)
, Amelia Atika2)
1) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial; IKIP-PGRI Pontianak, Indonesia
E-mail: [email protected]
2) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial; IKIP-PGRI Pontianak, Indonesia
E-mail: [email protected]
Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara faktual penyusunan program Bimbingan dan
Konseling berikut kelebihan dan kekurangan program Bimbingan dan Konseling bidang bimbingan belajar dan
mendesain penyusunan program Bimbingan dan Konseling bidang bimbingan belajar komprehensif di SMA Negeri
Kota Pontianak. Metode pengumpulan datanya menggunakan teknik komunikasi langsung dan komunikasi tidak
langsung. Teknik analisis menggunakan tiga tahapan meliputi: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan
atau verifikasi model program bimbingan belajar. Hasil penelitian menunjukkan: (1) model faktual penyusunan
program Bimbingan dan Konseling bidang bimbingan belajar SMA Negeri Kota Pontianak Guru Bimbingan dan
Konseling melakukan need assesment menggunakan instrumen DCM dan sosiometri saja sebatas penggumpulan data
bukan analisis data; (2) Penyusunan program Bimbingan dan Konseling konseptual tentang bidang belajar berbantuan
sistem informasi menajemen dapat melibatkan kepala sekolah untuk monitoring kinerja guru Bimbingan dan
Konseling dalam menyusun program Bimbingan dan Konseling, guru mata pelajaran dan wali kelas melakukan
identifikasi masalah kesulitan belajar di kelas.
Kata Kunci: Program; Bimbingan Belajar
I. PENDAHULUAN
Pengelolaan pendidikan menjadi dimensi yang sangat
urgent untuk mengatur dan mengalokasi sumber daya yang
terdapat dalam dunia pendidikan guna mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan. Upaya untuk mencapai
tujuan tersebut harus mendayagunakan semua sumber
organisasi dan manajemen yang berkesinambungan. Upaya
mencapai tujuan tersebut dalam salah satu lingkup dalam
manajemen pendidikan, yang hakekatnya merupakan bentuk
kerja sama personel pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan dimulai dari perencanaan, pemantauan, dan
penilaian tentang usaha sekolah mencapai tujuannya yang
biasa disebut sebagai proses manajemen.
Bimbingan dan Konseling merupakan sub organisasi
dari organisasi sekolah yang prosesnya mencakup aktivitas
manajemen. Organisasi Bimbingan dan Konseling
merupakan wadah yang mengatur semua kegiatan untuk
mencapai tujuan Bimbingan dan Konseling secara bersamasama. Pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling ini
hendaknya bersinergi dengan pencapaian tujuan pendidikan
secara umum, sehingga kinerja guru Bimbingan dan
Konseling sebagai manifestasi dari kompetensi yang
melingkupinya dapat optimal [1]. Manajemen dalam
Bimbingan dan Konseling merupakan pengelolaan, yaitu
suatu kegiatan yang diawali dari perencanaan kegiatan
Bimbingan dan Konseling, pengorganisasian aktivitas dan
semua unsur pendukung Bimbingan dan Konseling,
menggerakkan sumber daya manusia untuk melaksanakan
kegiatan Bimbingan dan Konseling, memotivasi sumber
daya manusia agar kegiatan Bimbingan dan Konseling
mencapai tujuan serta mengevaluasi kegiatan Bimbingan dan
Konseling untuk mengetahui apakah semua kegiatan layanan
sudah dilaksanakan dan mengetahui sejauhmana pencapaian
hasilnya [2].
Manajemen Bimbingan dan Konseling dilakukan dalam
tahapan penyusunan program, implementasi program dan
evaluasi. Ketiga proses tersebut merupakan suatu kelaziman Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia
Volume 4 Nomor 1 bulan Maret . Halaman 31-38
p-ISSN: 2477-5916 e-ISSN: 2477-8370
32
yang harus dilakukan guru Bimbingan dan Konseling dalam
manajemen bimbingan konseling secara berkelanjutan.
Pelaksanaan siklus menajamen Bimbingan dan Konseling
tersebut memungkinkan terjadi perbaikan mutu layanan [3].
Kondisi yang berbeda, dalam praksis pelayanan
Bimbingan dan Konseling di sekolah masih banyak guru
Bimbingan Dan Konseling yang tidak utuh dalam
menjalankan siklus manajemen layanan Bimbingan dan
Konseling [4]. Seperti yang ditunjukkan pada survei di
lapangan berdasarkan hasil angket di SMA Negeri Kota
Pontianak bahwa guru Bimbingan dan Konseling tatkala
menyusun program dalam kriteria kurang baik (58,3 %).
Guru Bimbingan dan Konseling juga mengaku kesulitan
tatkala menyusun program, terutama pada langkah need
assement, interpretasi data dan menyusun program tahunan
sampai pada program harian. Terkait dengan kondisi tersebut
guru Bimbingan dan Konseling beranggapan bahwa
menyusun program tidak perlu dilakukan setiap tahun. Data
tersebut dapat dimaknai bahwa guru Bimbingan dan
Konseling masih mengalami kesulitan untuk menyusun
program Bimbingan dan Konseling dan beranggapan bahwa
menyusun program Bimbingan dan Konseling membutuhkan
waktu yang lama. Terkait dengan kondisi tersebut di atas,
maka guru Bimbingan dan Konseling menganggap program
Bimbingan dan Konseling tidak perlu disusun setiap tahun.
Kondisi faktual menunjukkan bahwa program Bimbingan
dan Konseling yang dibuat guru Bimbingan dan Konseling
cenderung dibuat sekali pakai selama beberapa tahun;
penggunaan program Bimbingan dan Konseling berulang
tanpa dievaluasi kekurangan maupun relevansinya dengan
kebutuhan siswa.
Realita lainnya yang ditemui di sekolah menunjukkan
bahwa kegiatan need assesment dalam kerangka penyusunan
program Bimbingan dan Konseling masih sebatas
pengumpulan data, dan belum dapat menghasilkan
informasi, sehingga belum dapat dimanfaatkan secara cepat
dan tepat [5]. Kendati demikian, guru Bimbingan dan
Konseling hendaknya berupaya untuk menuju pengemasan
data ke dalam bentuk informasi, mengingat kebermanfaatan
informasi sangatlah tinggi. Informasi akan bernilai apabila
memenuhi berbagai karakteristik antara lain akurat dan tepat
waktu. Informasi yang diperoleh sebagai proses perolehan
data dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling mempunyai
nilai kontributif untuk merancang intervensi yang sangat
dibutuhkan para siswa untuk berjalannya sebuah aktivitas
bimbingan belajar.
Aktivitas guru Bimbingan dan Konseling menunjukkan
bahwa pemanfaatan teknologi sangat membantu, tatkala
guru Bimbingan dan Konseling melakukan dokumentasi data
dan menunjukkan akuntabilitas. Hasil penelitian dalam
kegiatan Bimbingan dan Konseling dengan memanfaatkan
teknologi informasi diarahkan untuk perbaikan mutu dan
sistem layanan Bimbingan dan Konseling. Ditambahkan,
dalam Jurnal Penelitian yang dilakukan oleh Yusuf dan
Nurihsan [6] pemanfaatan teknologi juga digunakan untuk
Pengembangan Analisis Tugas Perkembangan (ATP)
sebagai perangkat lunak berfungsi untuk mengolah data
yang diperlukan melalui Inventori Tugas Perkembangan
(ITP) secara computerized.
Mencermati pendapat Kartadinata [7] dapat
ditunjukkan bahwa belum pernah ada penelitian yang terkait
dengan penyusunan program Bimbingan dan Konseling
bidang bimbingan belajar berbantuan sistem informasi
manajemen. Relevan dengan kondisi di atas, maka penelitian
ini secara khusus difokuskan untuk mengembangkan model
penyusunan program Bimbingan dan Konseling bidang
bimbingan belajar berbantuan sistem informasi manajemen.
Pengembangan model ini mengacu pada model yang
dikembangkan oleh Gibson dan Mitchel (dalam [2]), yang
mencakup alur kerja guru Bimbingan Dan Konseling
sekolah dalam menyusun program Bimbingan dan Konseling
bidang belajar sekaligus instrumen yag diperlukan mulai dari
assesment kebutuhan. Daya efikasi model penyusunan
program Bimbingan dan Konseling bidang bimbingan
belajar diperkuat dengan pengembangan perangkat lunak
sistem informasi dan manajemen Bimbingan dan Konseling
dengan web application, multiple login, dapat diintegrasikan
dalam jaringan internet dan intranet. Model penyusunan
program Bimbingan dan Konseling bidang bimbingan
belajar berbantuan sistem informasi manajemen diharapkan
dapat mendorong guru Bimbingan dan Konseling untu
merancang program Bimbingan dan Konseling secara cepat
dan akurat.
Bimbingan belajar yang dimaksudkan dalam penelitian
ini adalah komponen layanan kepada individu yang
mencakup memanfaatkan keterampilan belajar, memilih
jurusan atau program studi yang tepat, memilih tambahan
mata pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa,
kehadiran siswa di sekolah, phobia sekolah, drop out,
gangguan karena kurangnya perhatian dalam belajar, sikap,
perilaku, atau masalah kelakuan, berbakat/ talenta, kurang
sukses dalam pendidikan, mengatur masalah belajar,
kemampuan belajar dan kebiasaan, minat belajar, dan
aktivitas lain yang dipandang dapat mengembangkan aspek
akademik dan pendidikan.
Pelaksanaan komponen ini dapat diberikan secara
kelompok maupun secara individual kepada siswa. Strategi
yang dikembangkan oleh Gysbers dan Henderson [3]
meliputi individual appraisal yaitu strategi dimana guru
Bimbingan dan Konseling membantu siswa untuk dapat
menilai dan menafsirkan potensi-potensi yang dimiliki
berupa minat, keterampilan, prestasi, dan aspek
kepribadiaannya. Selanjutnya, ialah individual advisement
merupakan startegi untuk siswa agar mampu menggunakan
informasi untuk mengarahkan dirinya. Terakhir, transitition
planning yang dibuat untuk membantu siswa memahami
tahap transisi dunia kerja serta follow up berkenaan dengan
evaluasi program yang akan datang.
Penelitian tentang program belajar diduga dapat
meningkatkan proses manajemen Bimbingan dan Konseling
dalam pelaksanaan dan evaluasi program. Dengan demikian
program Bimbingan dan Konseling relevan dengan
kebutuhan siswa dan proses penyusunannya lebih sistematis.
Penggunaan sistem informasi manajemen dalam penyusunan
program Bimbingan dan Konseling menjadikan data siswa, Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia
Volume 4 Nomor 1 bulan Maret . Halaman 31-38
p-ISSN: 2477-5916 e-ISSN: 2477-8370
33
termasuk kebutuhannya, menjadi sistematis [8]. Penelitian
ini memungkinkan guru Bimbingan dan Konseling dapat
membuat keputusan yang akurat dalam setiap proses
manajemen Bimbingan dan Konseling khususnya bidang
belajar.
Dengan demikian, dari penelitian ini dirancang untuk
memperoleh gambaran faktual penyusunan program
bimbingan belajar di SMA Negeri Kota Pontianak dengan
menelaah dan menganalisis apa saja kelebihan dan
kekurangan program bimbingan belajar di SMA Negeri
Kota Pontianak dan mengetahui langkah-langkah mendesain
penyusunan program bimbingan belajar komprehensif di
SMA Negeri Kota Pontianak.
II. METODE
Metode yang dipandang tepat untuk digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif dengan bentuk
penelitian yang digunakan adalah survey studi (studi
survey). Hal ini dilatarbelakangi dari tujuan yang hendak
dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menggungkapkan
pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling yang ada di
SMA Negeri Kota Pontianak. Berdasarkan uraian tersebut
dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan untuk
menggambarkan pelaksanaan program bimbingan belajar
secara apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Kegiatan
identifikasi masalah, maka peneliti mengadakan studi
pendahuluan ke obyek yang diteliti untuk melakukan
observasi dan wawancara ke berbagai sumber terkait
rancangan program yang dilakukan oleh sekolah dimulai
dari tahap perencanaan, tahap pengorganisasian, tahap
pelaksanaan, hingga tahap pengawasan program dan
evaluasi hasil.
Berdasarkan paparan di atas seluruh siswa dan guru
Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Negeri
Pontianak dengan karakteristik sebagai berikut: (a)
Karakteristik populasi siswa, yaitu: Siswa yang terdaftar
pada tahun ajaran 2014/2015 di kelas X Sekolah Menengah
Negeri Kota Pontianak dan semua siswa laki-laki dan
perempuan, baik yang pindahan maupun yang tidak naik
kelas. (b) Karakteristik populasi guru, yaitu: Guru
Bimbingan dan Konseling yang bertugas membimbing siswa
kelas X, berlatar belakang S1 Bimbingan dan Konseling, dan
merupakan guru tetap sudah bertugas lebih dari 5 tahun dan
sudah sertifikasi. Berdasarkan karakteristik tersebut
diperoleh populasi penelitian yang berjumlah 381 siswa dan
tiga orang guru Bimbingan dan Konseling. Selanjutnya, jika
jumlah subyeknya besar dapat diambil secara 10-15% atau
20-25% atau lebihâ. Berdasarkan pendapat tersebut, maka
dalam penelitian ini diambil sebesar 20% dari populasi
dengan perhitungan 56 orang siswa dijadikan sebagai sampel
penelitian dengan model teknik purposive random sampling.
Pengumpulan data penelitian melalui teknik
komunikasi langsung dan tidak langsung serta teknik
dokumenter, dengan alat instrument berupa wawancara,
angket, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan
untuk menghitung data hasil angket kebutuhan layanan
menggunakan aplikasi angket kebutuhan peserta didik
terkhususnya dalam bidang bimbingan belajar.
Analisis ini merupakan kegiatan penafsiran data
dengan menggunakan teknik analisis data persentase dan
hasil wawancara diambil secara kualitatif dan
interprestasikan secara rasional. Data hasil wawancara ini
berfungsi sebagai pelengkap sekaligus cross check
(pengecekan silang) data hasil angket siswa berkenaan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk
mendeskripsi program Bimbingan dan Konseling bidang
bimbingan belajar di SMA Negeri Kota Pontianak adalah
angket kebutuhan peserta didik, wawancara dan observasi.
Indikator yang diungkap dalam studi pendahuluan melalui
angket kebutuhan peserta didik meliputi tahap need
assesment bidang bimbingan belajar, interpretasi data,
prioritas kebutuhan, perumusan kebutuhan program, dan
prosedur program. Program yang berkualitas harus melalui
kelima tahap penyusunan program tersebut. Instrumen lain
yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur
mengungkap tentang cara yang lebih detail dalam
penyusunan program Bimbingan dan Konseling bidang
bimbingan belajar. Instrumen observasi digunakan untuk
mengungkap kelengkapan administrasi dan program
Bimbingan dan Konseling secara fisik. Berdasarkan metode
pengumpulan data tersebut dapat dideskripsikan penyusunan
model factual program Bimbingan dan Konseling khususnya
pada bidang bimbingan belajar di SMA Negeri Kota
Pontianak.
Penyusunan program Bimbingan dan Konseling bidang
bimbingan yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan
Konseling belum melibatkan kepala sekolah. Peran kepala
sekolah hanya memonitor kinerja peran guru dalam proses
pendidikan, secara khusus kepala sekolah belum melakukan
monitoring terhadap kinerja guru Bimbingan dan Konseling
dalam penyusunan program Bimbingan dan Konseling.
Namun kepala sekolah menyarankan bahwa guru Bimbingan
dan Konseling hendaknya bekerja sama dan melakukan
komunikasi sinergis secara akademik diantara komponen
sekolah, mendokumentasikan data siswa dengan jelas dan
lengkap, sehingga mampu mengakomodir kebutuhan siswa
melalui bimbingan belajar. Hasil bimbingan terhadap siswa
yang mengalami kesulitan belajar diinformasikan kepada
guru mata pelajaran dan wali kelas. berikut merupakan hasil
perhitungan presentase kebutuhan siswa dalam bidang
bimbingan belajar.Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia
Volume 4 Nomor 1 bulan Maret . Halaman 31-38
p-ISSN: 2477-5916 e-ISSN: 2477-8370
34
TABEL I
HASIL ANALISA KEBUTUHAN PROGRAM SISWA SMA NEGERI KOTA PONTIANAK
NO BUTIR ANGKET KEBUTUHAN PESERTA DIDIK JML
RESPONDEN PROSENTASE PRIORITAS
1
Saya merasa belum disiplin dalam beribadah pada Tuhan
YME 28 3.83% TINGGI
2
Saya kadang-kadang berperilaku dan bertutur kata tidak
jujur 26 3.56% TINGGI
3
Saya kadang-kadang masih suka menyontek pada waktu
tes 24 3.28% TINGGI
4
Saya merasa belum bisa mengendalikan emosi dengan
baik 24 3.28% TINGGI
5 Saya belum paham tentang sikap dan perilaku asertif 23 3.15% TINGGI
6
Saya belum tahu cara mengenal dan memahami diri
sendiri 22 3.01% TINGGI
7 Saya belum memahami potensi diri 22 3.01% TINGGI
8
Saya belum tahu perubahan dan permasalahan yang
terjadi pada masa remaja 22 3.01% TINGGI
9
Saya belum mengenal tentang macam-macam
kepribadian 22 3.01% TINGGI
10 Saya kurang memiliki rasa percaya diri 22 3.01% TINGGI
11 Saya kadang kurang menjaga kesehatan diri 22 3.01% TINGGI
12
Saya belum tahu ciri-ciri/sifat/prilaku pribadi yang
berkarakter 22 3.01% TINGGI
13
Saya merasa kurang memilki tanggung jawab pada diri
sendiri 21 2.87% TINGGI
14 Saya kesulitan mengatur waktu belajar dan bermain 21 2.87% TINGGI
15 Kondisi orang tua saya sedang tidak harmonis 19 2.60% TINGGI
16 Saya merasa tidak betah tinggal di rumah sendiri 19 2.60% TINGGI
17
Saya mempunyai masalah dengan anggota keluarga di
rumah 19 2.60% TINGGI
18 Saya belum bisa menjadi pribadi yang mandiri 19 2.60% TINGGI
19 Saya sedang memiliki konflik pribadi 18 2.46% TINGGI
20
Saya belum memahami tentang norma/cara membangun
berkeluarga 18 2.46% TINGGI
21 Saya belum banyak mengenal lingkungan sekolah baru 18 2.46% TINGGI
22 Saya belum memahami tentang kenakalan remaja 17 2.33% TINGGI
23
Saya masih sedikit mengetahui tentang dampak atau
bahaya rokok 17 2.33% TINGGI
24
Saya belum banyak mengenal tentang perilaku sosial
yang bertanggung jawab 17 2.33% TINGGI
25 Saya belum tahu tentang bullying dan cara mensikapinya 17 2.33% TINGGI
26 Saya sukar bergaul dengan teman-teman di sekolah 16 2.19% TINGGI
27 Sering saya dianggap tidak sopan pada orang lain 15 2.05% TINGGI
28 Saya kurang memahami dampak dari media sosial 15 2.05% TINGGI
29
Saya jarang bermain/berteman di lingkungan tempat saya
tinggal 15 2.05% TINGGI
30 Saya belum banyak teman atau sahabat 15 2.05% TINGGI
31
Saya kurang suka berkomunikasi dengan teman lawan
jenis 13 1.78% SEDANG
32
Saya belum tahu cara belajar yang baik dan benar di
SMA/MA 13 1.78% SEDANGJurnal Bimbingan Konseling Indonesia
Volume 4 Nomor 1 bulan Maret . Halaman 31-38
p-ISSN: 2477-5916 e-ISSN: 2477-8370
35
33 Saya belum tahu cara meraih prestasi di sekolah 12 1.64% SEDANG
34
Saya belum paham tentang gaya belajar dan strategi yang
sesuai dengannya 11 1.50% SEDANG
35 Orang tua saya tidak peduli dengan kegiatan belajar saya 11 1.50% SEDANG
36
Saya masih sering menunda-nunda tugas
sekolah/pekerjaan rumah (PR) 10 1.37% SEDANG
37
Saya merasa kesulitan dalam memahami pelajaran
tertentu 9 1.23% SEDANG
38 Saya belum tahu cara memanfaatkan sumber belajar 9 1.23% SEDANG
39 Saya belajarnya jika akan ada tes atau ujian saja 7 0.96% RENDAH
40
Saya belum tahu tentang struktur kurikulum yang ada di
sekolah 5 0.68% RENDAH
41
Saya merasa malas belajar dan kalau belajar sering
ngantuk 5 0.68% RENDAH
42
Saya belum terbiasa belajar bersama atau belajar
kelompok 5 0.68% RENDAH
43
Saya belum paham cara memilih lembaga bimbingan
belajar yang baik 5 0.68% RENDAH
44
Saya belum dapat memanfaatkan teknologi informasi
untuk belajar 5 0.68% RENDAH
45
Saya belum tahu cara memperoleh bantuan pendidikan
(beasiswa) 4 0.55% RENDAH
46
Saya terpaksa harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan
hidup 4 0.55% RENDAH
47
Saya merasa bingung memilih kegiatan esktrakurikuler di
sekolah 4 0.55% RENDAH
48
Saya merasa belum mantap pada pilihan peminatan yang
diambil 2 0.27% RENDAH
49
Saya merasa belum paham hubungan antara hobi, bakat,
minat, kemampuan dan karir 1 0.14% RENDAH
50 Saya belum memiliki perencanaan karir masa depan 1 0.14% RENDAH
Program bimbingan belajar juga belum melibatkan
guru mata pelajaran dan wali kelas, padahal peran guru mata
pelajaran dan wali kelas sangat memberikan kontribusi
dalam layanan bimbingan belajar. Penyusunan program
Bimbingan dan Konseling bidang bimbingan belajar yang
dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling mengacu
pada dokumen tertulis Bimbingan dan Konseling, seperti
kurikulum bimbingan, perencanaan individual, pelayanan
responsif, dan sistem pendukung. Tatkala guru Bimbingan
dan Konseling menyusun program bidang bimbingan belajar
memperhatikan prosedur yang ada, seperti need assesment,
interpretasi data, penetapan skala prioritas, perumusan
tujuan, dan prosedur program. Namun kondisi di lapangan
menunjukkan fenomena kinerja guru Bimbingan dan
Konseling dalam penyusunan program, yaitu guru
Bimbingan dan Konseling sudah melakukan penyusunan
program Bimbingan dan Konseling, walau ada yang belum
sesuai dengan prosedur yang ada. Sehingga permasalahan
tersebut dapat didiagnosa sebagai berikut, (1) Tahap need
assesment, meliputi dua kegiatan yang harus dilakukan,
yaitu (a) menentukan instrumen yang sesuai untuk
mengungkap kebutuhan belajar siswa. Pada kegiatan ini,
data di lapangan menunjukan bahwa guru Bimbingan dan
Konseling menggunakan daftar cek masalah dan sosiometri.
Instrumen DCM yang digunakan belum secara khusus untuk
kepentingan bimbingan belajar dan belum diuji validitas dan
reabilitasnya. Seharusnya instrumen yang digunakan lebih
banyak jenisnya tidak hanya dua jenis, semakin banyak jenis
instrumen yang digunakan akan memperlengkap pemenuhan
kebutuhan data. (b) melakukan analisis data. Pengakuan dua
orang guru Bimbingan dan Konseling melakukan analisis
terhadap instrumen tersebut, namun tiga guru yang lain
hanya menyimpan sebagai dokumen, dengan alasan analisis
data membutuhkan waktu yang lama dan masih ada tugas
lain yang dikerjakan. Artinya instrumen tesebut tidak
dianalisis sebagaimana seharusnya untuk kepentingan need
assesment, kondisi ini diperkuat pernyataan siswa bahwa
siswa menghendaki guru Bimbingan dan Konseling lebih
peduli terhadap siswa dan bertanggung jawab, maknanya
adalah guru Bimbingan dan Konseling tidak hanya
mengungkap masalah siswa saja lewat daftar cek masalah
dan tidak pernah ada solusi untuk masalah tersebut. (2)
Tahap interpretasi data, pada tahap ini seharusnya guru
Bimbingan dan Konseling melakukan pengkategorian data,
yang meliputi mengubah data menjadi informasi,
menentukan prioritas informasi, dan menentukan prioritas
bagi siswa yang membutuhkan layanan bimbingan. Data di
lapangan menunjukkan bahwa guru Bimbingan dan
Konseling tidak melakukan interpretasi data bahkan mereka
mengaku tidak mengetahui bagaimana melakukan Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia
Volume 4 Nomor 1 bulan Maret . Halaman 31-38
p-ISSN: 2477-5916 e-ISSN: 2477-8370
36
interpretasi data. (3) Penetapan Skala Prioritas, tahap ini
dilakukan berdasarkan tahap interpretasi data. Sementara itu,
tahap interpretasi data tidak dilakukan oleh guru Bimbingan
dan Konseling, maka tatkala menentukan prioritas dalam
pemberian bantuan hanya berdasarkan siswa yang
bermasalah. Artinya siswa bermasalah yang mendapat
bantuan layanan bimbingan, menurut prinsip bimbingan
layanan bimbingan diberikan untuk semua siswa yang
bermasalah maupun yang tidak bermasalah. Kondisi faktual
ini memaksa guru Bimbingan dan Konseling melakukan
layanan bimbingan secara insidental, artinya layanan
bimbingan dilakukan apabila ada siswa yang mengalami
masalah, sehingga layanan bimbingan dilakukan tidak
terencana secara matang. Kondisi ini diperkuat oleh
pernyataan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bahwa
mereka menghendaki guru Bimbingan dan Konseling lebih
teliti pada saat melakukan identifikasi siswa yang
bermasalah, supaya kualitas layanan bimbingannya dapat
meningkat. (4) Penetapan tujuan layanan bimbingan, tahap
ini dilakukan untuk menentukan pencapaian layanan
bimbingan yang diberikan kepada siswa. Tujuan layanan
bimbingan dirumuskan berdasarkan pada permasalahan yang
dialami siswa. Data di lapangan, guru Bimbingan dan
Konseling memang merumuskan tujuan tatkala melakukan
penyusunan program, namun perumusan tujuan yang
dilakukan ini tidak didasarkan pada kebutuhan siswa. Hal ini
terjadi karena guru Bimbingan dan Konseling tidak
melakukan proses need assesment yang sesuai dengan teori
yang ada. (5) Prosedur penyusunan program, pada tahap ini
guru Bimbingan dan Konseling dituntut untuk menyusun
program dari tahunan sampai harian. Data di lapangan
menunjukkan bahwa guru Bimbingan dan Konseling
beranggapan bahwa menyusun program membutuhkan
waktu yang lama, sehingga ada kecenderungan program
dibuat sekali dan digunanakn untuk beberapa tahun. Bahkan
ada yang membuat program secara mandiri atau dilakukan
oleh satu orang, kemudian diduplikasi untuk beberapa kelas.
Gambar 1. Temuan Faktual Perencanaan Program BIMBINGAN DAN
KONSELING di SMA Negeri Kota Pontianak
Berdasarkan analisis deskriptif secara kuantitatif dapat
digunakan sebagai dasar untuk merumuskan kelebihan dan
kelemahan model faktual penyusunan program Bimbingan
dan Konseling bidang bimbingan belajar. Kelebihan model
faktual penyusunan program Bimbingan dan Konseling
bidang bimbingan belajar yang ada adalah (1) kegiatan
assesment kebutuhan sudah dilakukan oleh semua guru
Bimbingan dan Konseling namun jenis instrumen yang
digunakan masih sangat terbatas. (2) kegiatan pengolahan
data, sudah ada yang menggunakan alat bantu komputer
walau sangat minim dengan software sederhana. Kelemahan
model faktual penyusunan program Bimbingan dan
Konseling bidang bimbingan belajar yang dapat dipotret di
lapangan adalah: (1) peran kepala sekolah hanya memonitor
kinerja guru dalam proses pendidikan, tidak secara khusus
memonitor kinerja guru Bimbingan dan Konseling terutama
dalam penyusunan program Bimbingan dan Konseling; (2)
kegiatan asesmen kebutuhan, meliputi (a) instrumen tidak
dilakukan olah data dan hanya disimpan dalam dokumen,
karena beban kerja banyak, waktu terbatas. Kendala-kendala
guru Bimbingan dan Konseling dalam menyusun program
Bimbingan dan Konseling bidang bimbngan belajar dapat
dianalisis dari beberapa dimensi. kegiatan need assesment
bidang belajar, interpretasi data, kegiatan penentuan skala
prioritas, kegiatan perumusan tujuan, kegiatan prosedur
program.
B. PEMBAHASAN
Berbagai hasil analisa hasil instrumen yang
dikembangkan pada lingkup bimbingan belajar, meliputi
angket kebutuhan peserta didik. Instrumen ini dilakukan uji
validasi yaitu uji ahli, kemudian dianalisis sesuai dengan
tujuan. Hasil akhir, tersusun instrumen yang sudah
tervalidasi dan siap digunakan. Kemudian instrumen
dilengkapi dengan nilai siswa dan daftar kehadiran siswa di
sekolah dikemas menjadi basis data kedalam sistem
informasi manajemen. Membuat sistem informasi
manajemen dengan bantuan teknologi informasi, yaitu
berupa langkah-langkah penyusunan program Bimbingan
dan Konseling, yang akan diuraikan berikut ini: (a) Tahap
Need Assesment, Pada tahap ini, guru Bimbingan dan
Konseling melakkan input data yang berfungsi sebagai
database, seperti data siswa, sekolah, instrumen bidang
belajar, sosiometri, nilai dan presensi siswa. Meliputi: menu
data master, berupa data identitas siswa, input identitas
sekolah, mata pelajaran, instrumen dan pertanyaan (meliputi
motivasi belajar, regulasi diri, daftar cek masalah belajar,
dan alasan siswa mengapa memilih teman yang disukai dan
tidak disukai melalui instrumen sosiometri; menu nilai siwa,
menu ini memuat menu input nilai dan daftar nilai.
Berdasarkan input nilai akan menghasilkan grafik
kedudukan prestasi siswa pada tiap mata pelajaran (nilai
rata-rata tiap pelajaran), kedudukan nilai siswa dibandingkan
dengan nilai Kriteria Ketentuan Minimal (KKM). Dari
analisis ini akan diperoleh nama siswa yang mengalami
kesulitan belajar; menu hasil angket, dimaksudkan guru
Bimbingan Dan Konseling akan memperoleh hasil analisis
angket dari motivasi belajar, regulasi diri, daftar cek masalah
belajar, dan sosiometri. Hasil tersaji dalam bentuk persentase
dengan kriteria sangat baik, baik, kurang baik dan kurang
sekali; (b) Tahap Interpretasi Data, Pada tahap ini guru
Bimbingan dan Konseling dapat melakukan interpretasi data Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia
Volume 4 Nomor 1 bulan Maret . Halaman 31-38
p-ISSN: 2477-5916 e-ISSN: 2477-8370
37
terhadap data yang sudah dianalisis pada menu need
assesment. Menu yang memuat interpresi data dalam sistem
informasi manajemen adalah menu interpretasi data, pada
menu ini akan diperoleh hasil angket yang dibedakan
menjadi kelompok upper dan lower, artinya ada kelompok
yang memiliki hasil analisis angket dalam kriteria baik dan
sangat baik. Untuk kelompok lower, hasil analisis angket
dari kurang baik dan kurang sekali. Pada menu ini pula guru
Bimbingan dan Konseling dapat memberikan rekomendasi
tindakan layanan siswa yang perlu diprioritaskan. (c) Tahap
Penetapan Prioritas, Pada tahap ini guru Bimbingan dan
Konseling dapat menetapkan prioritas siswa yang perlu
mendapatkan layanan bimbingan. Data untuk penentuan
prioritas diperoleh dari menu interpretasi data. Sedangkan
menu yang digunakan dalam sistem informasi manajemen
untuk tahap ini adalah menu penetapan prioritas, pada menu
ini guru Bimbingan dan Konseling sudah memiliki jumlah
siswa yang diprioritaskan untuk mendapat layanan lengkap
dengan topik dan fungsi bimbingan. (d) Tahap Penetapan
Tujuan Program, Penetapan tujuan program merupakan
tahap yang menuntut guru Bimbingan dan Konseling
merumuskan tujuan yang akan dicapai siswa tatkala
mendapat bantuan layanan bimbingan. Menu yang
digunakan dalam sistem informasi manajemen adalah menu
penetapan tujuan program, untuk menu ini desain model
masih memberi peluang guru Bimbingan dan Konseling
melakukan judgment proffesional dengan merumuskan
tujuan jangka panjang (umum) dan jangka pendek (khusus)
sebagai rumusan yang kelak digunakan dalam penyusunan
satuan layanan.(e) Tahap Penetapan Prosedur Program,
Tahap kelima merupakan tahap penetapan prosedur
program, artinya guru Bimbingan dan Konseling dituntut
untuk membuat program tahunan samapai harian. Kegiatan
yang direncanakan diperoleh dari menu penetapan tujuan
program berupa jenis kegiatan yang akan dilakukan selama
satu tahun dan dirinci ke dalam program semester, bulanan,
mingguan dan harian. Nama menu dari tahap penetapan
prosedur program yang tertera dalamsistem informasi
manajemen adalah menu penetapan prosedur program, menu
ini memuat program tahunan sampai satuan layanan. Pada
awalnya guru dapat menginput berbagai kegiatan yang kelak
dapat dirancang ke dalam program Bimbingan dan
Konseling. Setiap input kegiatan akan tercatat dalam
kalender program Bimbingan dan Konseling dan user
tinggal klik tanggal akan muncul kegiatan yang telah
dijadwalkan. Rentangan kegiatan bimbingan akan terformat
dalam masing-masing program tahunan sampai mingguan.
Untuk satuan layanan ada panduan teknologi bersifat
otomatis dan judgment proffesional.
Merujuk pada pengembangan teori rancangan dan
program yang akan dilaksanakan oleh guru Bimbingan dan
Konseling di sekolah, ditemukan benang merah bahwasanya
pelaksanaan program yang disusun sebagaimana yang
disebutkan oleh Fathur Rohman (dalam [7]) berkenaan
dengan manajemen program tidak mungkin berjalan dan
terselenggara apabila sekolah tidak memiliki program yang
bermutu, jelas, sistematis, dan terarah. kerangka kerja utuh
Bimbingan dan Konseling memberikan gambaran bahwa
suatu program hendaknya dimulai dari penilaian terhadap
kebutuhan peserta didik dan kebutuhan lingkungan. Hal
tersebut telah dilaksanakan oleh guru Bimbingan dan
Konseling di SMA Negeri Pontianak dalam menyusun
rancangan program Bimbingan dan Konseling. Berikut ini
merupakan alur desain model penyusunan program
Bimbingan dan Konseling bidang bimbingan belajar
berbantuan SIM di SMA Negeri Kota Pontianak yang
nampak pada gambar 2:
Gambar 2. Bagan Model Hipotetik
IV.KESIMPULAN
1. Model faktual penyusunan program Bimbingan dan
Konseling bidang bimbingan belajar SMAN 2 Kota
Pontianak, dapat dideskripsikan bahwa dalam
penyusunan program Bimbingan Dan Konseling bidang
bimbingan belajar kepala sekolah belum terlibat di
dalamnya, namun demikian melakukan monitoring
kinerja pada semua guru termasuk guru Bimbingan dan
Konseling. Kaitannya dengan penyusunan program
Bimbingan dan Konseling guru mata pelajaran dan wali
kelas belum terlibat dalam kegiatan tersebut. Data
pribadi siswa masih dilakukan secara manual. Guru
Bimbingan dan Konseling melakukan need assesment
menggunakan instrumen DCM dan sosimetri saja sebatas
penggumpulan data bukan analisis data. Guru Bimbingan
dan Konseling tidak melakukan interpretasi data,
sehingga dalam penentuan skala prioritas hanya untuk
siswa yang bermasalah saja. Perumusan tujuan
bimbingan kurang sesuai dengan kebutuhan siswa,
program dilaksanakan secara insidentil dan dibuat sekali
untuk beberapa tahun.
2. Kelebihan penyusunan program Bimbingan dan
Konseling bidang belajar yang ada di SMA 2 kota
Pontianak. Kelebihan program Bimbingan dan Konseling
di antaranya (1) kegiatan assesmen kebutuhan siswa
sudah dilakukan oleh semua guru Bimbingan Dan
Konseling namun jenis instrumen yang digunakan masih
sangat terbatas. (2) Kegiatan pengolahan data sudah ada
yang diolah pakai komputer namun sofware masih
sederhana. Berdasarkan hasil pengolahan data pada
Kelompok Kelas IX A-G dan Kelompok Gabungan
Kelas bahwa: aspek kematangan intelektual dan aspek Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia
Volume 4 Nomor 1 bulan Maret . Halaman 31-38
p-ISSN: 2477-5916 e-ISSN: 2477-8370
38
kesadaran tanggung jawab tersebut dapat dideskripsikan
sebagai suatu kesenjangan/kebutuhan yang terjadi pada
tugas perkembangan peserta didik tahun ajaran
2014/2015 kelas IX SMA Negeri Kota Pontianak yang
harus menjadi prioritas peyelesaian. Rancangan Program
Bimbingan dan Konseling Komprehensif kelas IX SMA
Negeri Kota Pontianak tahun ajaran 2015/2016,
terlampir.
Kelemahan yang dapat diperoleh di lapangan adalah (1)
peran kepala sekolah memonitor kinerja guru Bimbingan
dan Konseling hanya proses pendidikan, tidak secara
khusus memonitoring kinerja guru Bimbingan dan
Konseling dalam penyusunan program Bimbingan dan
Konseling. (2) kegiatan assesment kebutuhan siswa,
meliputi (a) instrumen tidak dilakukan olah data dan
hanya disimpan bentuk dokumen, karena beban kerja
banyak, waktu terbatas. (b) instrumen khusus untuk
bimbingan belajar belum tersedia, instrumen yang
digunakan masih umum untuk semua bidang bimbingan,
sehingga instrumen yang dipakai masih ada kelemahan.
(c) assesment kebutuhan dilakukan masih secara manual,
sehingga belum dibuat basis data. Sementara keuntungan
basis data dapat di apdate setiap saat. (d) aktivitas
assesment kebutuhan memerlukan waktu lama, kinerja
guru Bimbingan Dan Konseling menjadi kuarng efisien.
(3) pengolahan data masih dilakukan secara manual,
sehingga informasi sangat terbatas dan kurang fresh. (4)
guru Bimbingan dan Konseling mengakui kurang
berpengalaman dalam melakukan need assesment. Serta
pemahaman guru Bimbingan dan Konseling need
assesment sebagai bentuk pengumpulan data.
3. Penyusunan program Bimbingan dan Konseling
konseptual tentang bidang belajar berbantuan sistem
informasi menajemen dapat melibatkan kepala sekolah
untuk monitoring kinerja guru Bimbingan dan Konseling
dalam menyusun program Bimbingan dan Konseling,
guru mata pelajaran dan wali kelas melakukan
identifikasi masalah kesulitan belajar di kelas. Guru
Bimbingan dan Konseling menyusun program
Bimbingan dan Konseling mulai dari langkah need
assesment sampai prosedur program dan menghasilkan
program Bimbingan dan Konseling bidang belajar.
Instrumentasi bimbingan belajar menggunakan aplikasi
sistem informasi manajemen, sehingga diperoleh
kesesuain program dengan kebutuhan siswa.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Burt, I., Gonzalez, T., Swank, J., & Ascher, D. L. (2011). Addressing
the technology gap in counselor education: Identification of
Characteristics in Students that Affect Learning in College
Classrooms. The Journal of Counselor Preparation and
Supervision, 3(1), 2.
[2] Sugiyo. (2012). Manajemen Bimbingan dan Konseling. Semarang:
UNNES Pers.
[3] Gysbers, N. C. (2006). Developing And Managing (Your School
Guidance and Counseling Program):Fourth Edition. Alexandria:
ACA
[4] Hamilton, J. E. e. (2002). Using Online Technology for Student
Support Service. London: Elsevier Academic Press , 50-62.
[5] Thompson, D. W., Loesch, L. C., & Seraphine, A. E. (2003).
Development of an instrument to assess the counseling needs of
elementary school students. Professional School Counseling, 35-39.
[6] Nurihsan, Y. (2004). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Pengembangan
Analisis Tugas Perkembangan. Bandung: FIP UPI.
[7] Kartadinata, S. (2003). Bimbingan dan Konseling Perkembangan;
Pendekatan Alternatif Bagi Perbaikan Mutu dan Sistem Manajemen
Layanan Bimbingan dan Konseling Sekolah. Jurnal Bimbingan dan
Konseling, 6(11).
[8] Jang, H. (2008). Supporting Students' Motivation, Engagement, And
Learning During An Uninteresting Activity. Journal of Educational
Psychology, 100(4), 798.