Artikel Jurnal Semantik Revisi Kel 1 - PDF to Document
Published on Sep 07, 2026
Description:
Page | 1
MAKNA DENOTATIF DAN KONOTATIF DALAM LIRIK LAGU
“HATI-HATI DI JALAN” KARYA TULUS
Itsna Nuroniah Hasanah, Suci Naila Sahlu, Zahira Addiniah
1Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, 1Universitas Islam Negeri Sunan Gunung
Djati, 1Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati,
*Correspondence e-mail:[email protected], [email protected],
[email protected]
INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK
Riwayat Artikel:
Received:
Accepted:
Published:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta menjelaskan
makna denotatif dan konotatif yang terdapat dalam lirik lagu
“Hati-Hati di Jalan” karya Tulus. Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semantik,
melalui data berupa kutipan lirik lagu yang dianalisis secara
mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu
tersebut memuat dua jenis makna, yaitu makna denotatif
sebagai makna langsung dan makna konotatif sebagai makna
yang berkaitan dengan aspek emosional dan simbolik. Makna
konotatif lebih dominan, terutama melalui penggunaan
metafora seperti”asam dan garam” serta “perjalanan” yang
menggambarkan dinamika hubungan dan kehidupan. Selain
itu, ungkapan “hati-hati di jalan” tidak hanya bermakna
sebagai imbauan literal, tetapi juga mencerminkan bentuk
kepedulian dalam situasi perpisahan. Dengan demikian, lirik
lagu ini tidak hanya menyampaikan makna secara eksplisit,
tetapi juga membuka ruang penafsiran yang lebih luas melalui
makna konotatif yang bersifat kontekstual.
Kata kunci:
Makna denotatif, makna
konotatif, lirik lagu,
analisis semantik,
metafora
© 2026 The Authors. Published by Jurnal Bastra.
This is an open access article under the CC BY
license
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/)Page | 2
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sarana utama dalam komunikasi manusia untuk menyampaikan
gagasan, perasaan, serta pengalaman kepada orang lain. Melalui bahasa, manusia tidak hanya
membangun komunikasi, tetapi juga merepresentasikan realitas sosial dan budaya yang mereka
alami. Dalam konteks sastra, bahasa memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan dengan
bahasa komunikasi sehari-hari. Bahasa dalam karya sastra sering dimanfaatkan secara kreatif
sehingga mampu menghadirkan berbagai lapisan makna, baik yang bersifat langsung maupun
bersifat implisit. Oleh karena itu, kajian terhadap penggunaan bahasa dalam karya sastra
menjadi penting dalam bidang bahasa dan sastra, terutama untuk memahami bagaimana makna
dibangun dan disampaikan kepada pembaca atau pendengar.
Salah satu bentuk karya sastra yang banyak memanfaatkan kekuatan bahasa adalah lirik
lagu. Lirik lagu merupakan ekspresi artistik yang memadukan unsur bahasa dan musik untuk
menyampaikan gagasan, pengalaman emosional, serta refleksi kehidupan yang dialami oleh
pencipta lagu. Dalam lirik lagu, pemilihan kata, penggunaan bahasa, serta susunan ungkapan
tertentu memiliki peran penting dalam membangung makna. Hal tersebut membuat lirik lagu
tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap komposisi musik, tetapi juga sebagai media
penyampaian pesan yang dapat dipahami dan diinterpretasikan oleh pendengar. Dengan
demikian, lirik lagu dapat dipandang sebagai teks sastra yang memiliki potensi untuk dianalisis
secara linguistik maupun sastra, khususnya dalam kajian makna bahasa.
Makna merupakan unsur penting dalam kajian semantik yang berhubungan dengan
bagaimana suatu kata, frasa, atau kalimat dipahami oleh penutur bahasa. Menurut Chaer
(2014), semantik merupakan cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung
dalam bahasa. Dalam kajian semantik, makna bahasa dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai
jenis, salah satunya adalah makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotatif merupakan
makna dasar atau makna sebenarnya dari suatu kata yang merujuk secara langsung pada objek
atau konsep tertentu. Sementara itu, makna konotatif merupakan makna tambahan yang muncul
karena adanya asosiasi emosional, nilai rasa, maupun pengalaman budaya yang melekat pada
suatu kata (Keraf, 2009). Perbedaan kedua jenis makna tersebut menunjukan bahwa suatu kata
tidak selalu memiliki satu makna tunggal, tetapi juga menghadirkan berbagai kemungkinan
interpretasi pada konteks penggunaannya.
Penggunaan makna denotatif dan konotatif sering ditemukan dalam karya sastra,
termasuk dalam lirik lagu. Pencipta lagu sering memanfaatkan kata-kata yang memiliki makna
ganda atau makna tambahan untuk memperkuat pesan emosional yang ingin disampaikan. Page | 3
Melalui penggunaan bahasa yang demikian, lirik lagu mampu menghadirkan pengalaman
estetis sekaligus menyampaikan pesan yang lebih mendalam kepada pendengar. Oleh karena
itu, analisis terhadap makna dalam lirik lagu menjadi penting untuk memahami pesan, emosi,
serta nilai yang terkandung dalam karya tersebut.
Salah satu lagu yang menarik untuk dikaji dari sudut pandang makna adalah lagu “HatiHati di Jalan” yang dipopulerkan oleh Tulus. Lagu ini mengangkat tema perpisahan dua
individu yang pernah memiliki hubungan emosional, tetapi pada akhirnya harus menerima
kenyataan untuk berpisah dan melanjutkan kehidupan masing-masing. Tema perpisahan yang
diangkat dalam lagu tersebut disampaikan melalui pilihan kata yang sederhana, namun mampu
menghadirkan nuansa emosional yang kuat. Beberapa ungkapan dalam lirik lagu ini tidak
hanya mengandung makna literal, tetapi juga memiliki makna yang lebih mendalam melalui
asosiasi perasaan dan pengalaman yang dapat dirasakan oleh pendengar. Oleh karena itu,
pemahaman terhadap makna dalam lirik lagu tersebut tidak hanya dapat dilakukan melalui arti
secara harfiah, tetapi juga perlu mempertimbangkan makna yang muncul melalui interpretasi
kontekstual.
Penelitian mengenai analisis makna dalam lirik lagu telah dilakukan oleh beberapa
peneliti sebelumnya. Beberapa penelitian menunjukan bahwa lirik lagu sebagai bentuk teks
sastra populer memiliki potensi besar untuk dianalisis dari perspektif semantik karena
mengandung berbagai bentuk ekspresi bahasa yang kreatif. Namun demikian, sebagian besar
peneliti sebelumnya lebih banyak menitikberatkan pada analisis gaya bahasa, metafora, atau
pesan moral dalam lirik lagu. Kajian yang secara khusus mengkaji makna denotatif dan
konotatif dalam lagu-lagu populer indonesia masih relatif terbatas, terutama pada lagu “HatiHati di Jalan”. Kajian ini tidak hanya mengidentifikasi jenis makna yang muncul dalam lirik
lagu, tetapi juga menjelaskan bagaimana makna tersebut berfungsi dalam membangun pesan
emosional yang disampaikan oleh pencipta lagu. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian semantik dalam bidang bahasa
dan sastra, khususnya dalam analisis makna pada teks lirik lagu sebagai salah satu bentuk karya
sastra populer.
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna denotatif dan
makna konotatif yang terdapat dalam lirik lagu “Hati-Hati di Jalan” yang dipopulerkan oleh
Tulus. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun
praktis. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian semantik dalam
bidang bahasa dan sastra, khususnya dalam memahami hubungan antara bahasa, makna, dan Page | 4
ekspresi emosional dalam lirik lagu. Sementara itu, secara praktis penelitian ini diharapkan
dapat menjadi referensi bagi mahasiswa, peneliti, maupun pembaca yang memiliki minat
terhadap kajian bahasa dan sastra dalam memahami makna yang terkandung dalam karya
musik secara lebih mendalam.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis
semantik. Pendekatan ini digunakan karena penelitian berfokus pada upaya memahami dan
mendeskripsikan makna yang terkandung dalam lirik lagu melalui penafsiran terhadap
penggunaan bahasa secara kontekstual. Landasan analisis merujuk pada teori semantik yang
dikemukakan oleh Chaer (2014), yang memandang makna sebagai unsur utama dalam kajian
bahasa. Selain itu, konsep makna denotatif dan konotatif dalam penelitian ini mengacu pada
Keraf (2009), yang membedakan makna berdasarkan sifatnya, yaitu makna denotatif sebagai
makna literal dan makna konotatif sebagai makna yang dipengaruhi oleh nilai rasa,
pengalaman, dan konteks.
Teori-teori tersebut digunakan sebagai dasar dalam mengidentifikasi serta menafsirkan
makna yang terdapat dalam lirik lagu, khususnya dalam membedakan makna langsung dan
makna kias yang muncul dalam konteks penggunaan bahasa. Untuk memperkuat analisis,
penelitian ini juga didukung oleh kajian semantik dalam penelitian terdahulu, seperti
Widyastuti (2020) yang membahas makna dalam lirik populer, serta Nugroho (2023) yang
menekankan peran aspek emosional dalam pembentukan makna konotatif. Dengan demikian,
analisis dalam penelitian ini tidak hanya bertumpu pada teori dasar, tetapi juga
mempertimbangkan perkembangan kajian semantik dalam penelitian terbaru.
Objek penelitian ini berupa satuan lingual yang meliputi kata, frasa, dan kalimat dalam lirik
lagu “Hati-Hati di Jalan” karya Tulus yang mengandung makna denotatif dan makna
konotatif. Data penelitian berupa kutipan lirik lagu yang dipilih berdasarkan relevansinya
dengan fokus penelitian. Sumber data diperoleh dari teks lirik lagu “Hati-Hati di Jalan” karya
Tulus yang diakses melalui YouTube, yang digunakan sebagai rujukan utama teks lirik dalam
analisis.
Instrumen penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama (human instrument) yang
berperan dalam proses pengumpulan dan analisis data (Sugiyono, 2017), untuk menunjang
proses analisis, digunakan lembar klasifikasi data guna mengelompokkan data berdasarkan
kategori makna.Page | 5
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan teknik catat. Teknik simak
dilakukan dengan membaca secara cermat lirik lagu untuk mengidentifikasi satuan lingual yang
mengandung makna denotatif dan konotatif. Selanjutnya, teknik catat dilakukan dengan
mencatat satuan lingual yang mengandung makna denotatif dan konotatif (Mahsun, 2014).
Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) membaca dan memahami teks
lirik lagu secara menyeluruh, (2) mengidentifikasi satuan lingual yang mengandung makna
denotatif dan konotatif, (3) mengklasifikasikan data berdasarkan jenis makna, (4) menganalisis
makna denotatif berdasarkan makna leksikal atau makna sebenarnya (Chaer, 2014), (5)
menganalisis makna konotatif dengan memperhatikan konteks, asosiasi makna, dan nilai rasa
berdasarkan Keraf (2009) serta didukung oleh penelitian relevan (Widyastuti, 2020; Nugroho,
2023), dan (6) menarik simpulan dari hasil analisis.
Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui teknik triangulasi teori, yaitu dengan
membandingkan hasil analisis berdasarkan beberapa sumber teoritis yang relevan. Selain itu,
dilakukan ketekunan pengamatan melalui pembacaan dan analisis data secara berulang untuk
memastikan konsistensi dan kedalaman hasil penelitian.
Hasil analisis disajikan secara deskriptif dalam bentuk uraian sistematis untuk menjelaskan
penggunaan makna denotatif dan konotatif dalam lirik lagu serta perannya dalam membangun
pesan yang disampaikan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis terhadap lirik lagu “Hati-Hati di Jalan” karya Tulus,
ditemukan bahwa lirik tersebut memuat dua jenis makna, yaitu makna denotatif dan makna
konotatif. Kedua jenis makna ini saling berkaitan dalam membangun pesan lagu yang
disampaikan dalam lagu. Makna denotatif berfungsi sebagai makna dasar atau makna literal,
sedangkan makna konotatif memberikan makna tambahan yang berkaitan dengan nilai rasa,
pengalaman, dan konteks penggunaan bahasa.
Secara umum, makna konotatif lebih dominan dalam lirik lagu ini. Hal tersebut terlihat
dari banyaknya penggunaan kata-kata yang tidak hanya dimaknai secara literal, tetapi juga
memiliki makna simbolik, seperti “perjalanan”, “asam dan garam”, serta “jalan”. Penggunaan
kata-kata tersebut menunjukkan bahwa lirik lagu tidak hanya menyampaikan makna secara
langsung, tetapi juga mengandung pesan emosional yang mendalam. Dalam memperjelas hasil
analisis, berikut disajikan klasifikasi data makna denotatif dan konotatif yang terdapat dalam
lirik lagu.Page | 6
Tabel 1. Klasifikasi Makna Denotatif dan Konotatif dalam Lirik Lagu ”Hati-Hati di
Jalan”
No Kutipan Lirik Makna Denotatif Makna Konotatif
1. “Perjalanan membawamu bertemu
denganku”
Aktivitas berpindah
dari satu tempat ke
tempat lain hingga
terjadi pertemuan
antara dua orang
secara fisik
Kehidupan atau
proses waktu yang
mempertemukan dua
individu melalui
takdir, tanpa
direncanakan
sebelumnya
2. “Ku kira kira kita asam dan garam
dan kita bertemu di belanga”
Dua bahan masakan
berbeda (asam dan
garam) yang berada
dalam satu wadah
(belanga) untuk
diolah bersama
Dua individu dengan
karakter dan latar
belakang berbeda
yang dipersatukan
dalam hubungan,
serta mampu saling
melengkapi dalam
kehidupan
3. “Kukira kita akan bersama” Dugaan atau
perkiraan bahwa dua
orang akan tetap
bersama dalam satu
hubungan
Harapan, keyakinan,
atau ekspektasi
emosional terhadap
keberlanjutan
hubungan yang
diinginkan namun
belum tentu terjadi
4. “Kau melanjutkan perjalananmu,
ku melanjutkan perjalananku”
Dua orang
melanjutkan
perjalanan masingPerpisahan yang
terjadi dalam
hubungan, serta Page | 7
masing secara
terpisah
keputusan untuk
menjalani kehidupan
masing-masing
setelah tidak lagi
bersama
5. “Hati-hati di jalan” Himbauan atau
peringatan agar
seseorang berhatihati saat bepergian
di jalan
Ungkapan
kepedulian, kasih
sayang, dan
keikhlasan dalam
perpisahan, yang
menunjukkan masih
adanya perasaan
meskipun hubungan
telah berakhir
Berdasarkan pada Tabel 1, data yang telah diklasifikasikan menunjukkan bahwa lirik
lagu “Hati-Hati di Jalan” mengandung makna denotatif dan konotatif yang saling berkaitan.
Makna konotatif tampak lebih dominan karena banyak menggunakan simbol dan metafora
yang merepresentasikan pengalaman emosional manusia.
Hal ini sejalan dengan Widyastuti (2020) menyatakan bahwa lirik lagu populer
mengandung makna semantik yang dipengaruhi oleh konteks emosional. selain itu, Wulandari
(2021) menjelaskan bahwa makna denotatif bersifat literal, sedangkan makna konotatif muncul
melalui interpretasi pendengar.
Sari (2020) juga menambahkan bahwa metafora dalam lirik lagu digunakan untuk
menggambarkan konsep abstrak seperti perjalanan hidup. Sejalan dengan itu Pratama (2021)
menyatakan bahwa lirik lagu banyak merepresentasikan emosi manusia secara simbolik. Selain
itu, Hidayat (2022) dan Lestari (2022) menyatakan bahwa makna dalam teks sastra modern
tidak hanya dapat dipahami secara harfiah, tetapi juga secara kontekstual. Untuk memahami
makna tersebut secara lebih mendalam, setiap kutipan lirik dianalisis dengan memperhatikan
penggunaan kata serta konteks yang melatarbelakanginya.Page | 8
Uraian Hasil Analisis
1. “Perjalanan membawamu bertemu denganku”
Pada lirik tersebut, terdapat beberapa kata kunci yang membangun makna secara
keseluruhan, yaitu “perjalanan” dan “bertemu”. Kedua kata ini tidak hanya berfungsi secara
leksikal, tetapi juga mengalami perluasan makna dalam konteks lirik lagu.
Kata “perjalanan” secara denotatif berarti aktivitas berpindah dari satu tempat ke
tempat lain. Makna ini bersifat konkret dan dapat diamati secara langsung dalam kehidupan
sehari-hari. Namun, dalam konteks lirik lagu, kata ini tidak lagi merujuk pada aktivitas fisik
semata, melainkan dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup yang mencakup proses,
pengalaman, serta dinamika kehidupan individu.
Selanjutnya, kata “bertemu” secara denotatif berarti berjumpa atau bertatap muka.
Akan tetapi, dalam konteks lirik lagu, kata ini memiliki makna konotatif yang lebih luas, yaitu
pertemuan dua individu sebagai bagian dari proses kehidupan. Pertemuan tersebut tidak hanya
bersifat kebetulan, tetapi dapat dimaknai sebagai hasil dari rangkaian pengalaman yang dilalui
masing-masing individu.
Kemudian, jika dianalisis lebih mendalam, penggunaan dalam kata “membawamu”
menunjukkan bahwa pertemuan tersebut terjadi melalui proses yang tidak sepenuhnya
dikendalikan oleh individu. Hal ini mengarah pada pemaknaan bahwa pertemuan merupakan
bagian dari alur kehidupan yang lebih besar.
Dengan demikian, lirik ini tidak hanya menggambarkan peristiwa pertemuan secara
literal, tetapi juga mengandung makna konotatif berupa perjalanan kehidupan yang
mempertemukan dua individu dalam suatu hubungan.
2. “Kukira kita asam dan garam dan kita bertemu di belanga”
Pada lirik kedua, terdapat beberapa kata kunci yang berperan penting dalam
membangun makna, yaitu “asam dan garam” serta “belanga”. Secara denotatif, “asam dan
garam” merupakan bahan masakan yang memiliki rasa berbeda, sedangkan “belanga” adalah
sebuah wadah yang digunakan untuk memasak. Namun, dalam konteks lirik lagu, kedua unsur
tersebut mengalami pergeseran makna. Frasa dari “asam dan garam” secara konotatif
melambangkan dua individu dengan karakter, sifat, dan latar belakang yang berbeda.
Perbedaan tersebut tidak dimaknai sebagai hambatan, melainkan sebagai sesuatu yang dapat
saling melengkapi.Page | 9
Sementara itu, kata “belanga” secara konotatif dapat dimaknai sebagai ruang
kebersamaan atau suatu hubungan yang menyatukan kedua individu tersebut. Penggunaan
metafora ini menunjukkan bahwa hubungan terbentuk melalui proses penyatuan berbagai
perbedaan. Jika dianalisis lebih lanjut, penggunaan metafora ini juga menunjukkan adanya
penyederhanaan kompleksitas dalam hubungan manusia. Perbedaan yang dalam realitas bisa
menimbulkan konflik, dalam lirik ini justru digambarkan sebagai sesuatu yang harmonis.
Dengan demikian, lirik ini tidak hanya menggambarkan perpaduan dua unsur secara
literal, tetapi juga mengandung makna konotatif berupa hubungan yang dibangun dari
perbedaan yang saling melengkapi.
3. “Kukira kita akan bersama”
Pada lirik ini, terdapat beberapa kata kunci yang berperan penting dalam membangun
makna, yaitu “kukira” dan “bersama”. Kedua kata tersebut tidak hanya memiliki makna
leksikal, tetapi juga mengandung makna yang lebih dalam ketika ditempatkan dalam konteks
lirik lagu.
Secara denotatif, kata “kukira” berarti suatu dugaan atau anggapan terhadap sesuatu
yang belum pasti kebenarannya. Kata ini menunjukkan adanya proses berpikir atau asumsi
yang dibuat sendiri oleh individu. Sementara itu, kata “bersama” secara denotatif berarti
berada dalam suatu kebersamaan atau hubungan dengan orang lain.
Namun, dalam konteks lirik lagu, kedua kata tersebut mengalami perluasan makna.
Kata “kukira” secara konotatif menunjukkan adanya ketidakpastian sekaligus harapan yang
tidak memiliki dasar yang kuat. Kata ini mengisyaratkan bahwa apa yang diyakini sebelumnya
ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan.
Selanjutnya, kata “bersama” tidak hanya dimaknai sebagai kebersamaan secara fisik,
tetapi juga sebagai simbol hubungan emosional yang diharapkan dapat berlangsung dalam
jangka waktu yang lama. Dalam konteks ini, kebersamaan mengandung makna kedekatan,
komitmen, dan keberlanjutan hubungan. Jika dianalisis lebih mendalam, penggunaan kata
“kukira” di awal kalimat memberikan penekanan terhadap perubahan perspektif tokoh dalam
lagu. Hal ini menunjukkan adanya jarak antara harapan dan realitas. Lirik ini tidak hanya
menyampaikan keinginan untuk bersama, tetapi juga secara implisit menunjukkan bahwa
harapan tersebut tidak berwujudPage | 10
Dengan demikian, lirik ini tidak hanya menggambarkan harapan akan kebersamaan,
tetapi juga mengandung makna konotatif berupa kekecewaan dan refleksi terhadap hubungan
yang tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi.
4. “Kau melanjutkan perjalananmu, ku melanjutkan perjalananku”
Pada lirik ini, terdapat beberapa kata kunci yang membangun makna secara
keseluruhan, yaitu “melanjutkan, “perjalanan”, serta penggunaan kata ganti “kau” dan
“aku”. Keempat unsur ini saling berkaitan dalam membentuk makna yang lebih mendalam
dalam konteks lirik lagu.
Secara denotatif, kata “melanjutkan” berarti meneruskan suatu aktivitas yang telah
dilakukan sebelumnya. Makna ini bersifat langsung dan merujuk pada tindakan yang
berkesinambungan. Sementara itu, kata “perjalanan” secara denotatif berarti aktivitas
berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun, dalam konteks lirik lagu, kedua kata tersebut
mengalami perluasan makna. Kata “melanjutkan” secara konotatif tidak hanya berarti
meneruskan aktivitas, tetapi juga menunjukkan sikap menerima keadaan yang terjadi. Kata ini
mengisyaratkan bahwa individu tetap melangkah ke depan meskipun menghadapi situasi yang
tidak sesuai dengan harapan.
Selanjutnya, kata “perjalanan” tidak lagi dimaknai sebagai perpindahan fisik,
melainkan sebagai simbol perjalanan hidup yang mencakup pengalaman, proses, dan dinamika
kehidupan. Dalam konteks ini, perjalanan menjadi representasi dari kehidupan masing-masing
individu setelah hubungan yang dijalani mengalami perubahan.
Penggunaan kata ganti “kau” dan “aku” memiliki peran penting dalam mempertegas
makna lirik. Secara denotatif, kedua makna tersebut hanya merujuk pada dua individu yang
berbeda. Tetapi, secara konotatif, pemisahan antara “kau” dan “aku” menunjukkan adanya
jarak emosional dan perpisahan yang terjadi di antara keduanya. Jika dianalisis lebih
mendalam, struktur kalimat yang memisahkan kedua subjek tersebut memperkuat makna
bahwa masing-masing individu menjalani kehidupannya sendiri. Tidak ada lagi kebersamaan
seperti yang diharapkan sebelumnya, melainkan dua arah yang berbeda.
Dengan demikian, lirik ini tidak hanya menggambarkan aktivitas melanjutkan
perjalanan secara literal, tetapi juga mengandung makna konotatif berupa perpisahan,
penerimaan, serta kelanjutan hidup masing-masing individu setelah berakhirnya suatu
hubungan.