Tafsir tahlili KA 1 - PDF to Document
Published on Sep 15, 2026
Description:
HARI KEBANGKITAN DAN PERINGATAN BAGI
ORANG YANG INGKAR
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas terstuktur pada mata kuliah
Tafsir tahlili
Disusun Oleh :
Kelompok 1
Febri Kevin Pasha NIM: 25101086
Aqillah Yudo Putra NIM: 25101088
Dosen Pengampu:
H.Zulfi Akmal Lc.,MA
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM PENGEMBANGAN ILMU AL-QUR’AN (STAI-PIQ)
SUMATERA BARAT 1448 H / 2026 Mii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat, taufik,
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Hari Kebangkitan dan Peringatan bagi Orang yang Ingkar: Tafsir QS. An-Naba’
(78) dan QS. An-Nazi‘at (79)”
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Muhammad saw., keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang senantiasa
mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Makalah ini membahas tentang hari kebangkitan dan peringatan Allah Swt.
kepada orang-orang yang mengingkari adanya hari akhir sebagaimana
digambarkan dalam Surah An-Naba’ dan Surah An-Nazi‘at. Pembahasan ini
penting karena keimanan terhadap hari kebangkitan merupakan salah satu pokok
keimanan yang memberikan pengaruh besar terhadap perilaku manusia dalam
kehidupan dunia.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi
penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan
bagi penulis maupun para pembaca.3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keimanan kepada hari akhir merupakan salah satu pokok penting dalam ajaran Islam.
Seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk percaya bahwa kehidupan dunia memiliki batas,
tetapi juga harus meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Kehidupan tersebut meliputi
kebangkitan manusia dari alam kubur, dikumpulkan di padang mahsyar, perhitungan amal,
dan pemberian balasan sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.
Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan hari
kebangkitan. Hal tersebut disebabkan sebagian manusia pada masa turunnya Al-Qur’an
mengingkari kemungkinan manusia dibangkitkan setelah tubuhnya hancur dan menjadi
tanah. Al-Qur’an kemudian menjelaskan bahwa kebangkitan bukan sesuatu yang mustahil
bagi Allah Swt., sebab Allah adalah Zat yang menciptakan manusia pertama kali dan
memiliki kekuasaan mutlak atas seluruh makhluk.
Di antara surah yang memberikan gambaran kuat mengenai hari kebangkitan adalah
Surah An-Naba’ dan Surah An-Nazi‘at. Kedua surah tersebut termasuk surah Makkiyah dan
banyak membahas persoalan tauhid, hari kiamat, kebangkitan, serta balasan bagi orang-orang
yang beriman dan orang-orang yang ingkar.
Surah An-Naba’ menggambarkan hari kiamat sebagai suatu peristiwa besar (an-naba’
al-‘azhim) yang diperselisihkan oleh orang-orang kafir. Allah memperlihatkan berbagai
tanda kekuasaan-Nya melalui penciptaan bumi, gunung, manusia, malam, siang, langit,
matahari, dan hujan sebagai bukti bahwa Dia mampu membangkitkan manusia setelah
kematian.1
Sementara itu, Surah An-Nazi‘at memberikan gambaran yang lebih kuat tentang
1 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 15 (Jakarta: Lentera
Hati, 2002), hlm. 5–10.4
kedahsyatan hari kiamat. Surah ini menjelaskan bahwa ketika tiupan sangkakala terjadi,
manusia akan keluar dari kubur dan kehidupan dunia yang mereka cintai tidak lagi memiliki
arti. Surah ini juga mengingatkan kisah Fir‘aun sebagai contoh orang yang melampaui batas
dan mendustakan kebenaran.2
Dengan demikian, pembahasan mengenai hari kebangkitan dalam kedua surah
tersebut tidak hanya bertujuan memberikan informasi tentang kehidupan akhirat, tetapi juga
menjadi peringatan agar manusia tidak terlena dengan kehidupan dunia. Keyakinan terhadap
kebangkitan seharusnya mendorong manusia untuk bertakwa, memperbanyak amal saleh,
dan menjauhi kemaksiatan.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.Apa yang dimaksud dengan hari kebangkitan?
2.Bagaimana gambaran hari kebangkitan dalam Al-Qur’an?
3.Bagaimana kandungan QS. An-Naba’ mengenai hari kebangkitan?
4.Bagaimana kandungan QS. An-Nazi‘at mengenai hari kebangkitan?
5.Bagaimana bentuk peringatan bagi orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan?
6.Apa persamaan dan perbedaan pembahasan QS. An-Naba’ dan QS. An-Nazi‘at?
7.Apa nilai pendidikan yang dapat diambil dari kedua surah tersebut?
2 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari‘ah wa al-Manhaj, Jilid 15 (Damaskus: Dar alFikr, 2009), hlm. 422–430.5
C.Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan:
1.Menjelaskan pengertian hari kebangkitan.
2.Menjelaskan gambaran hari kebangkitan berdasarkan Al-Qur’an.
3.Mengetahui kandungan QS. An-Naba’ mengenai hari kebangkitan.
4.Mengetahui kandungan QS. An-Nazi‘at mengenai hari kebangkitan.
5.Menjelaskan peringatan Allah kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan.
6.Mengetahui persamaan dan perbedaan kandungan kedua surah.
7.Mengambil nilai-nilai pendidikan dan pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hari Kebangkitan
Secara bahasa, hari kebangkitan disebut dengan ث عْ بَ ْال مُ وْيَ) yaum al-ba‘ts). Kata ba‘ts
berasal dari kata ثَ – َبعَ ثُ َبعْ ا – يَ ًعثْ بَ yang berarti membangkitkan, mengutus, atau menghidupkan
kembali.
Secara istilah, hari kebangkitan adalah hari ketika Allah Swt. membangkitkan seluruh
manusia dari kematian untuk dikumpulkan dan mempertanggungjawabkan seluruh amal
perbuatannya selama hidup di dunia.3
Hari kebangkitan merupakan salah satu bagian dari keimanan kepada hari akhir. AlQur’an berulang kali menegaskan bahwa manusia akan dibangkitkan setelah kematian. Allah
Swt. berfirman:
ل َك لَ َم ي تُو َن
ثَُّم إ َّن ُكْم َيْومَ الْ قَيا َم ة تُْبعَثُ ث و َن َُّم إ َّن ُكم َب ْعدَ ذََٰ
“ kemudian, sesungguhnya kamu setelah itu benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya
kamu pada hari kiamat akan dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 15–16)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kematian bukan akhir dari perjalanan manusia.
Setelah kematian terdapat kehidupan akhirat yang akan menjadi tempat manusia menerima
balasan atas perbuatannya.
B. Gambaran Hari Kebangkitan dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menggambarkan hari kebangkitan dengan berbagai nama, antara lain:
قَيا َم ة
Kiamat Hari — َيْو ُم الْ
Kebangkitan Hari — َيْو ُم الْ َب ْع ث
Pembalasan Hari — َيْو ُم ال د ي ن
Pengumpulan Hari — َيْو ُم الْ َح ْش ر
ح َسا ب
Perhitungan Hari — َيْو ُم الْ
3 Muhammad ‘Ali ash-Shabuni, Shafwatut Tafasir, Jilid 3 (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1981), hlm. 564.7
Berbagai nama tersebut menunjukkan bahwa hari akhir mempunyai banyak tahapan
dan keadaan. Manusia akan dibangkitkan, dikumpulkan, dihisab, kemudian menerima balasan
dari Allah Swt.
Al-Qur’an juga menggunakan berbagai bukti untuk menjelaskan kemungkinan
terjadinya kebangkitan. Salah satunya adalah penciptaan manusia pertama kali. Allah yang
mampu menciptakan manusia dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada tentu mampu
menghidupkannya kembali setelah kematian.
C. Sekilas tentang Surah An-Naba’
Surah An-Naba’ merupakan surah ke-78 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 40
ayat dan termasuk kelompok surah Makkiyah.
Nama An-Naba’ berarti berita besar. Nama tersebut diambil dari ayat kedua:
َع ن الَّنَبإ الْعَ ظي م
“tentang berita yang besar.”
Menurut para mufasir, an-naba’ al-‘azhim dalam konteks surah ini berkaitan dengan
berita besar mengenai kebangkitan dan hari kiamat yang diperselisihkan oleh orang-orang
musyrik.4
Pada bagian awal surah, Allah mempertanyakan mengapa orang-orang kafir saling
bertanya tentang berita besar tersebut:
الَّ ذي هُ ْم ف ي ه ُم ْختَ لفُو َن َع ن الَّنَبإ الْ َعَّم َيتَ عَ ظي م َسا َءلُو َن
“Apakah yang mereka tanyakan? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan
tentangnya.”
Pertanyaan tersebut menjadi pembukaan yang kuat untuk mengarahkan perhatian
manusia kepada persoalan hari kebangkitan.
D. Kandungan QS. An-Naba’ tentang Hari Kebangkitan
1. Hari Kebangkitan adalah Berita Besar
Allah menyebut persoalan kebangkitan sebagai م ظي َعْال بإَنَّال) an-naba’ al-‘azhim), yaitu
4 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Vol. 15, hlm. 5–7.8
berita yang sangat besar.
Hal tersebut menunjukkan pentingnya persoalan hari akhir. Hari kebangkitan bukan
sekadar peristiwa yang akan terjadi kepada sebagian manusia, tetapi merupakan peristiwa
yang melibatkan seluruh umat manusia.
Orang-orang kafir pada masa Nabi Muhammad saw. mempertanyakan dan
mengingkari kemungkinan manusia dibangkitkan setelah mati. Allah kemudian memberikan
berbagai bukti kekuasaan-Nya.
2. Kekuasaan Allah sebagai Bukti Kebangkitan
Allah menyebutkan berbagai ciptaan-Nya:
َو َجعَلْ َنا الَّن َها َو َجعَ َر لْ َنا اللَّْي َل لَبا ًسا َو َجعَ لْ َنا َنْو َم ُكْم ُسَباتًا َو َخلَقْ َنا ُكْم أَ ْزَوا ًجا َو الْ جَبا َل أَ أ ْوتَادًا َلَ ْم َن ْجعَ ل اْْلَ ْر َض مَهادًا
َمعَا ًشا
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, gunung-gunung sebagai pasak,
dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan. Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat,
menjadikan malam sebagai pakaian, dan menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS.
An-Naba’: 6–11)
Ayat-ayat ini mengarahkan manusia untuk memperhatikan alam semesta. Kehidupan
yang berlangsung secara teratur menunjukkan kekuasaan dan kebijaksanaan Allah.
Jika Allah mampu menciptakan bumi, gunung, manusia, malam, dan siang dengan
segala keteraturannya, maka membangkitkan manusia setelah kematian bukanlah sesuatu
yang sulit bagi-Nya.
3. Tiupan Sangkakala dan Hari Kiamat
Allah berfirman:
َيْومَ يُْنفَ ُخ ف ي ال ُّصو ر فَتَأْتُو َن أَفْ َو إ ا ًجا َّن َيْومَ الْفَ ْص ل َكا َن ميقَاتًا
“Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan, yaitu pada hari
ketika sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong.” (QS. An-Naba’: 17–18)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa hari kebangkitan telah ditetapkan oleh Allah.
Manusia tidak dapat menentukan kapan hari tersebut terjadi.9
Ketika sangkakala ditiup, manusia akan bangkit dan datang dalam kelompokkelompok untuk menghadapi proses selanjutnya di akhirat.
4. Hari Kiamat sebagai Hari Pembalasan
Allah menggambarkan neraka sebagai tempat bagi orang-orang yang melampaui
batas dan mendustakan ayat-ayat-Nya:
لل َّطا غي َن َم إ آًبا َّن َج َهَّنمَ َكاَن ْت مْر َصادًا
“Sesungguhnya Jahanam itu tempat mengintai, menjadi tempat kembali bagi orang-orang
yang melampaui batas.”(QS. An-Naba’: 21–22)
Sebaliknya, orang-orang bertakwa mendapatkan kehidupan yang penuh kenikmatan:
َّن للْ ُمتَّ قي َن َمفَا ًزا
إ
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan.”(QS. An-Naba’: 31)
Dengan demikian, QS. An-Naba’ menampilkan dua akibat yang berbeda: neraka bagi
orang-orang yang ingkar dan melampaui batas serta kenikmatan bagi orang-orang bertakwa.
E. Sekilas tentang Surah An-Nazi‘at
Surah An-Nazi‘at merupakan surah ke-79 dalam Al-Qur’an dan terdiri atas 46 ayat.
Surah ini termasuk surah Makkiyah.
Nama An-Nazi‘at diambil dari ayat pertama:
َوالَّنا ز َعا ت َغ ْرقًا
“Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras.”
Surah ini memberikan gambaran mengenai kebangkitan, kedahsyatan hari kiamat,
serta kisah Fir‘aun sebagai contoh manusia yang sombong dan melampaui batas.
Pembahasan hari akhir dalam surah ini disampaikan dengan gaya yang sangat kuat
sehingga manusia diingatkan agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia.10
F. Kandungan QS. An-Nazi‘at tentang Hari Kebangkitan
1. Gambaran tentang Peristiwa Kiamat
Allah berfirman:
أَْب َصا ُر َها َخا شعَةٌ قُ لُو ٌب َيْو َم ئٍذ َوا جفَةٌ تَ ْتَبعُ َها ال َّرا دفَةُ َيْوم َ تَ ْر ُج ُف ال َّرا جفَةُ
“Pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, tiupan kedua mengiringinya. Hati
manusia pada waktu itu merasa sangat takut, pandangannya tertunduk.(QS. An-Nazi‘at: 6-9)
Ayat ini menggambarkan keadaan manusia ketika hari kiamat. Mereka mengalami
ketakutan yang sangat besar karena menyaksikan kenyataan yang sebelumnya mereka ingkari.
2. Keraguan Orang Kafir terhadap Kebangkitan
Allah berfirman:
أَإ ذَا ُكَّنا ع َظا ًما َّن خ َر أ ةً َإ َّنا لَ َمْردُودُو َن ف ي الْ َحاف َرة
“Apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?
Apakah apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur(QS. An-Nazi‘at: 10–11)
Pertanyaan tersebut menggambarkan keraguan orang-orang yang mengingkari
kebangkitan. Mereka menganggap mustahil manusia yang telah mati dan menjadi tulangbelulang dapat hidup kembali.
Allah kemudian menegaskan bahwa kebangkitan tersebut benar-benar akan terjadi.
3. Kisah Fir‘aun sebagai Peringatan
Salah satu pelajaran penting dalam QS. An-Nazi‘at adalah kisah Nabi Musa a.s.
dengan Fir‘aun.
Allah berfirman:
َّنهُ َطغَ َٰى
لَ َٰى ف ْر َعْو َن إ
اذْ َه ْب إ
“Pergilah kepada Fir‘aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas.”(QS. An-Nazi‘at: 17)
Fir‘aun menjadi contoh manusia yang sombong karena kekuasaan. Ia menolak