Air Mata Hutan Kami - Document to Flipbook
Published on Oct 20, 2026
Description:
i
Bacaan untuk Anak
Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 6
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
MarlinaAir Mata Hutan Kami
Marlina
MILIK NEGARA
TIDAK DIPERDAGANGKAN
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan BahasaAir Mata Hutan Kami
Penulis : Marlina
Penyunting : Muhammad Jaruki
Ilustrator : Ice Ramayani
Penata Letak : Bandi
Diterbitkan pada tahun 2017 oleh
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang
diperbanyak dalam bentuk apa pun izin tertulis dari
penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan
penulisan artikel atau karangan ilmiah.
PB
398.209 598
MAR
a
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Marlina
Air Mata Hutan Kami/Marlina; Muhammad Jaruki
(Penyunting). Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2017.
viii; 52 hlm.; 21 cm.
ISBN: 978-602-437-209-5
CERITA RAKYAT-INDONESIA
KESUSASTRAAN- ANAKiii
Sambutan
Sikap hidup pragmatis pada sebagian besar masyarakat
Indonesia dewasa ini mengakibatkan terkikisnya nilai-nilai luhur
budaya bangsa. Demikian halnya dengan budaya kekerasan
dan anarkisme sosial turut memperparah kondisi sosial budaya
bangsa Indonesia. Nilai kearifan lokal yang santun, ramah,
saling menghormati, arif, bijaksana, dan religius seakan terkikis
dan tereduksi gaya hidup instan dan modern. Masyarakat
sangat mudah tersulut emosinya, pemarah, brutal, dan kasar
tanpa mampu mengendalikan diri. Fenomena itu dapat menjadi
representasi melemahnya karakter bangsa yang terkenal ramah,
santun, toleran, serta berbudi pekerti luhur dan mulia.
Sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat, situasi
yang demikian itu jelas tidak menguntungkan bagi masa depan
bangsa, khususnya dalam melahirkan generasi masa depan bangsa
yang cerdas cendekia, bijak bestari, terampil, berbudi pekerti
luhur, berderajat mulia, berperadaban tinggi, dan senantiasa
berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, dibutuhkan
paradigma pendidikan karakter bangsa yang tidak sekadar
memburu kepentingan kognitif (pikir, nalar, dan logika), tetapi juga
memperhatikan dan mengintegrasi persoalan moral dan keluhuran
budi pekerti. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, yaitu fungsi pendidikan adalah mengembangkan
kemampuan dan membangun watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
dan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Penguatan pendidikan karakter bangsa dapat diwujudkan
melalui pengoptimalan peran Gerakan Literasi Nasional (GLN)
yang memumpunkan ketersediaan bahan bacaan berkualitas bagi
masyarakat Indonesia. Bahan bacaan berkualitas itu dapat digali
dari lanskap dan perubahan sosial masyarakat perdesaan dan
perkotaan, kekayaan bahasa daerah, pelajaran penting dari tokohtokoh Indonesia, kuliner Indonesia, dan arsitektur tradisional
Indonesia. Bahan bacaan yang digali dari sumber-sumber tersebut
mengandung nilai-nilai karakter bangsa, seperti nilai religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa
ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai iv
prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli
lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai karakter
bangsa itu berkaitan erat dengan hajat hidup dan kehidupan
manusia Indonesia yang tidak hanya mengejar kepentingan
diri sendiri, tetapi juga berkaitan dengan keseimbangan alam
semesta, kesejahteraan sosial masyarakat, dan ketakwaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Apabila jalinan ketiga hal itu terwujud
secara harmonis, terlahirlah bangsa Indonesia yang beradab dan
bermartabat mulia.
Akhirnya, kami menyampaikan penghargaan dan ucapan
terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Kepala Pusat Pembinaan,
Kepala Bidang Pembelajaran, Kepala Subbidang Modul dan Bahan
Ajar beserta staf, penulis buku, juri sayembara penulisan bahan
bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017, ilustrator, penyunting, dan
penyelaras akhir atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan
sampai dengan terwujudnya buku ini. Semoga buku ini dapat
bermanfaat bagi khalayak untuk menumbuhkan budaya literasi
melalui program Gerakan Literasi Nasional dalam menghadapi era
globalisasi, pasar bebas, dan keberagaman hidup manusia.
Jakarta, Juli 2017
Salam kami,
Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum.
Kepala Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasav
Pengantar
Sejak tahun 2016, Pusat Pembinaan, Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa),
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melaksanakan
kegiatan penyediaan buku bacaan. Ada tiga tujuan penting
kegiatan ini, yaitu meningkatkan budaya literasi bacatulis, mengingkatkan kemahiran berbahasa Indonesia, dan
mengenalkan kebinekaan Indonesia kepada peserta didik di
sekolah dan warga masyarakat Indonesia.
Untuk tahun 2016, kegiatan penyediaan buku ini
dilakukan dengan menulis ulang dan menerbitkan cerita
rakyat dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ditulis
oleh sejumlah peneliti dan penyuluh bahasa di Badan Bahasa.
Tulis-ulang dan penerbitan kembali buku-buku cerita rakyat
ini melalui dua tahap penting. Pertama, penilaian kualitas
bahasa dan cerita, penyuntingan, ilustrasi, dan pengatakan.
Ini dilakukan oleh satu tim yang dibentuk oleh Badan Bahasa
yang terdiri atas ahli bahasa, sastrawan, illustrator buku,
dan tenaga pengatak. Kedua, setelah selesai dinilai dan
disunting, cerita rakyat tersebut disampaikan ke Pusat
Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, untuk dinilai kelaikannya sebagai bahan bacaan
bagi siswa berdasarkan usia dan tingkat pendidikan. Dari dua
tahap penilaian tersebut, didapatkan 165 buku cerita rakyat.
Naskah siap cetak dari 165 buku yang disediakan
tahun 2016 telah diserahkan ke Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk selanjutnya
diharapkan bisa dicetak dan dibagikan ke sekolah-sekolah
di seluruh Indonesia. Selain itu, 28 dari 165 buku cerita
rakyat tersebut juga telah dipilih oleh Sekretariat Presiden,
Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, untuk
diterbitkan dalam Edisi Khusus Presiden dan dibagikan
kepada siswa dan masyarakat pegiat literasi.
Untuk tahun 2017, penyediaan buku—dengan
tiga tujuan di atas dilakukan melalui sayembara dengan
mengundang para penulis dari berbagai latar belakang.
Buku hasil sayembara tersebut adalah cerita rakyat, budaya vi
kuliner, arsitektur tradisional, lanskap perubahan sosial
masyarakat desa dan kota, serta tokoh lokal dan nasional.
Setelah melalui dua tahap penilaian, baik dari Badan Bahasa
maupun dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan, ada 117 buku
yang layak digunakan sebagai bahan bacaan untuk peserta
didik di sekolah dan di komunitas pegiat literasi. Jadi, total
bacaan yang telah disediakan dalam tahun ini adalah 282
buku.
Penyediaan buku yang mengusung tiga tujuan di
atas diharapkan menjadi pemantik bagi anak sekolah,
pegiat literasi, dan warga masyarakat untuk meningkatkan
kemampuan literasi baca-tulis dan kemahiran berbahasa
Indonesia. Selain itu, dengan membaca buku ini, siswa dan
pegiat literasi diharapkan mengenali dan mengapresiasi
kebinekaan sebagai kekayaan kebudayaan bangsa kita yang
perlu dan harus dirawat untuk kemajuan Indonesia. Selamat
berliterasi baca-tulis!
Jakarta, Desember 2017
Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, M.S.
Kepala Pusat Pembinaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasavii
Sekapur Sirih
Air Mata Hutan Kami bercerita tentang kondisi
di sebuah kampung yang bernama Teluk Mesjid,
Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Hampir setiap tahun,
kebakaran hutan terjadi di provinsi ini. Kebakaran
yang melanda hampir di semua kabupaten di Riau ini
menimbulkan kabut asap yang sangat tebal. Kabut asap
selain berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat,
juga berdampak pada aktivitas masyarakat di kampung
Teluk Mesjid.
Anak-anak sekolah harus diliburkan selama
beberapa hari, beberapa minggu, bahkan sampai satu
bulan lebih. Proses belajar mengajar menjadi terganggu.
Pekerjaan masyarakat juga terkena imbasnya. Seperti
pedagang makanan di sekolah-sekolah, tidak bisa
berjualan selama sekolah diliburkan.
Dalam rangka menimbulkan kesadaran tentang
manfaat hutan dan bahaya kebakaran hutan pada
generasi muda, Pemda Kabupaten Siak mengadakan
lomba menulis karangan dengan tema “Hutanku
Kehidupanku”.
Buku Air Mata Hutan Kami mengandung ajaran
moral agar generasi muda bisa menjaga lingkungan
dengan baik. Menjaga dan melindungi hutan yang
masih tersisa. Membakar hutan sangat buruk bagi
kelangsungan hidup, baik manusia maupun ewan yang
ada di bumi ini.
Penyusunan buku ini tidak mungkin terwujud
tanpa bantuan berbagai pihak. Untuk itu, saya ingin
menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu sehingga saya dapat menyelesaikan
cerita ini. Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat bagi
para siswa sekolah dasar di seluruh nusantara.
Pekanbaru, April 2017
Marlinaviii
Daftar Isi
Sambutan........................................................... iii
Pengantar .......................................................... v
Sekapur Sirih...................................................... vii
Daftar Isi ........................................................... viii
1. Libur Lagi ....................................................... 1
2. Kerinduan pada Sang Ibunda .......................... 11
3. Asap Belum Usai ............................................. 19
4. Lomba Mengarang........................................... 30
5. Sang Juara ..................................................... 37
Biodata Penulis................................................... 49
Bidota Penyunting ...............................................51
Biodata Ilustrator ...............................................52