Makalah ilmu hadist.kelompok 5 - Document to Flipbook
Published on Oct 26, 2026
Description:
MAKALAH
MEMAHAMI PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS
Di ajukan untuk tugas mata kuliah
“Pengelolaan Kelas ” Dosen Pengampu :
Kaila Saparina, M.Pd
Disusun oleh kelompok 2 :
Muhammad Akbar (2523256)
Vivi Ramadhani (2523263)
Raisha Lutfia Khairani (2523270)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN
KOMPUTER FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SJECH M DJAMIL DJAMBEK
TP 2024/2025ii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami ucapkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat
dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Menjelaskan
Memahami Pendekatan Dalam Pengelolaan kelas
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih terhadap bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dalam penyusunan makalah ini. Tentunya tidak akan maksimal jika tidak
mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari
penyusunan maupun tata Bahasa penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami
dengan rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini. Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga
inspirasi untuk pembaca.
Bukittinggi, 7 Maret 2025
Pemakalahiii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................. ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................................iii
BAB I.........................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.................................................................................................................... 4
A. Latar Belakang ............................................................................................................ 4
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................4
C. Tujuan Penulisan.........................................................................................................4
BAB II.......................................................................................................................................5
PEMBAHASAN.......................................................................................................................5
A. Hadist Pada Masa Thabi’in.........................................................................................5
B. Hadist Pada Masa Setelah Thabi’in............................................................................ 6
BAB III..................................................................................................................................... 8
PENUTUP................................................................................................................................ 8
A. Kesimpulan................................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................94
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada masa Tabi'in, hadis mengalami perkembangan yang signifikan seiring dengan
semakin banyaknya sahabat Nabi yang wafat. Generasi Tabi'in, yang merupakan murid
langsung para sahabat, merasa perlu untuk menjaga dan meneruskan ajaran Nabi
Muhammad SAW. Namun, kondisi politik yang penuh konflik, seperti munculnya
perpecahan antara kelompok politik dan madzhab, mendorong beredarnya hadis-hadis
palsu yang dibuat untuk mendukung kepentingan tertentu. Hal ini mendorong para ulama
Tabi'in untuk mulai meneliti keabsahan hadis dengan menelusuri sanad dan memeriksa
integritas perawinya. Memasuki masa setelah Tabi'in, atau dikenal sebagai masa Tabi’ut
Tabi’in, kebutuhan untuk membukukan hadis semakin mendesak. Islam telah menyebar
ke berbagai wilayah, dan semakin banyak orang yang meriwayatkan hadis. Untuk
menjaga kemurnian ajaran Nabi, para ulama mulai menyusun kitab-kitab hadis secara
sistematis dan mengembangkan ilmu-ilmu hadis, seperti ilmu jarh wa ta'dil dan ilmu
musthalah hadis. Di masa inilah upaya kodifikasi hadis secara resmi dimulai, yang kelak
melahirkan karya-karya besar seperti al-Muwaththa’ Imam Malik dan Shahih Imam al- Bukhari. B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan hadist pada masa thabi’in...?
2. Apa maksud dari hadist pada masa serelah thabi’in...?
3. Siapa saja tokoh pemikir hukum pada masa Tabi’in...?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui perkembangan dan karakteristik periwayatan hadis pada masa
Tabi'in. 2. Dapat mempelajari apa itu hadist pada masa thabi’in
3. Dapat memahami apa itu hadist pada masa setelah thabi’in5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hadist Pada Masa Thabi’in
Selain para sahabat yang telah mengoleksi hadis Nabi, ada juga dari kalangan
para tabi’in yang juga adalah murid para sahabat yang mengoleksi hadis-hadis Nabi. Sebagaimana para sahabat, para tabi’in juga sangat berhati-hati dalam meriwayatkan
hadis. Hanya saja mungkin pasti ada perbedaannya ialah dari segi beban yang
dihadapi oleh sahabat dan tabi’in, dan beban sahabat tentu lebih berat jika
dibandingkan dengan oleh tabi’in. Karena di masa tabi’in al-Qur’an telah di
kumpulkan dalam satu mushaf, selain itu pula pada masa akhir periode
Khulafaurrasyidin (terkhusus pada masa utsman bin Affan), para sahabat ahli hadis
telah menyebar diberbagai negara Islam. Sejalan dengan pesatnya perluasan wilayah
kekuasaan Islam, penyebaran sahabat-sahabat ke berbagai daerahpun terus meningkat, hal ini kemudian berimplikasikan juga kepada peningkatan penyebaran hadis. Para
tabi’in menerima hadis Nabi dari sahabat dalam berbagai bentuk, ada yang dalam
bentuk sebuah catatan ataupun sebuah tulisan dan ada pula yang harus dihafal. Di samping itu, ada juga dalam bentuk yang sudah terpolakan dalam ibadah
dan amaliah para sahabat, lalu Tabi’in menyaksikan dan mengikutinya. Dengan begitu, tidak ada satu hadis pun yang berceceran apalagi terlupakan. Ada beberapa kota yang
memang digunakan sebagai pusat pembinaan dalam periwayatan hadis, yang
kemudian dijadikan sebagai tempat tujuan para tabi’in dalam mencari hadis. Kota- kota tersebut ialah Madinah al-Munawwarah, Makkah, al-Mukarramah, Kuffah, Basrah, Syam, Mesir, Maghribi dan Andalusia, serta Yaman dan Khurasan.14 Pusat
yang pertama dijadikan pembinaan ialah di Madinah, karena di Madinah Rasulullah
juga membina masyarakat Islam yang didalamnya terdiri atas para kaum Muhajirin
dan Anshor. Diantara para sahabat yang menetap di Madinah ialah Khulafaurrasyidin, Abu Hurairah, Siti Aisyah, Abdullah bin Umar dan Abu Sa’id al-Khudri dan lain
sebagainya. Pada masa Tabi’in, banyak ulama yang berperan penting dalam
meriwayatkan dan menghimpun hadis. Berikut beberapa di antaranya:
1. Ibnu Syihab Az-Zuhri: Beliau adalah salah satu ulama terkemuka pada masa
Tabi’in. Ia memiliki kontribusi besar dalam meriwayatkan hadis dan memahami
ajaran Nabi Muhammad SAW.6
2. Saad bin Jubair: Ulama ini juga termasuk dalam kalangan Tabi’in yang masyhur. Ia aktif dalam meriwayatkan hadis dan memberikan penjelasan tentang ajaran
Islam. 3. Imam Abu Hanifah: Beliau dikenal sebagai pendiri salah satu dari empat mazhab
fiqih Sunni. Selain menjadi ahli fiqih, Imam Abu Hanifah juga memiliki peran
dalam meriwayatkan hadis. 4. Hasan Basri: Ulama yang terkenal dengan kebijaksanaan dan pengetahuannya. Ia
juga aktif dalam meriwayatkan hadis dan memberikan nasihat kepada umat. 5. Muhammad bin Syirin: Salah satu tokoh Tabi’in yang sangat berpengaruh. Ia
memiliki pengetahuan luas tentang hadis dan memainkan peran penting dalam
menghimpun serta menyebarkan ajaran Nabi. B. Hadist Pada Masa Setelah Thabi’in
Pada masa setelah Tabi'in, terjadi kodifikasi dan penyusunan hadis secara
sistematik. Hal ini termasuk pemisahan hadis sahih dari hadis yang tidak sahih, serta
penyusunan kitab-kitab hadis seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dan Sunan. Pada
masa ini pula, hadis dikumpulkan dan diterbitkan secara sistematik dengan tujuan
menjaga keaslian dan keabsahan hadis. Masa tabi’i al-tabi’in dimulai dengan berakhirnya masa tabi’in, tabi’in terakhir
adalah tabi’in yang bertemu dengan sahabat yang meninggal paling akhir. Cara
periwayatan hadits pada masa tabi’i al-tabi’in adalah bi lafdzi, yaitu dengan lafaz. Karena kodifikasi hadits mulai dilakukan di akhir masa tabi’in. Kodifikasi pada masa
ini telah menggunakan metode yang sistematis, yaitu dengan mengelompokkan
hadits-hadits yang ada sesuai dengan bidang bahasan, walaupun dalam
penyusunannya masih bercampur antara hadis Nabi dengan qaul sahabat dan tabi’in. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Muwattha’ Imam Malik. Barulah pada
awal abad kedua hijriah, dalam kodifikasinya, hadits telah dipisahkan dari qaul
sahabat dan tabi’in. Selain riwayat bi al-lafdzi, ada juga sistem penerimaan dan
periwayatan hadis dengan sistem isnad. Maraknya pemalsuan hadits yang terjadi di
akhir masa tabi’in yang terus berlanjut sampai masa sesudahnya menjadikan para
ulama untuk meneliti keontetikan hadits, cara yang ditempuh para ulama yaitu dengan
meneliti perawi-perawinya. Dari penelitian tersebut memunculkan istilah isnad
sebagaimana yang dikenal hingga saat ini. Menurut Abu Zahrah, sanad yang7
disampaikan pada masa tabi’in sering menyampaikan sebuah hadits dengan tanpa
menyebut sahabat yang meriwayatkannya. Pada periode ini, metode penggalian hukum bertambah banyak, baik corak
maupun ragamnya. Dengan demikian bertambah banyak pula kaidah-kaidah istinbat
hukum dan teknis penerapannya. Sebagai contoh Imam Abu Hanifah dalam
memutuskan perkara membatasi ijtihadnya dengan menggunakan al- Quran, Hadis, fatwa-fatwa sahabat yang telah disepakati dan berijtihad dengan menggunakan
penalarannya sendiri, seperti istihsan. Abu Hanifah tidak mau menggunakan fatwa
ulama pada zamannya. Sebab ia berpandangan bahwa mereka sederajat dengan
dirinya. Imam Maliki –setelah al-Quran dan Hadis lebih banyak menggunakan amal
(tradisi) ahli madinah dalam memutuskan hukum, dan maslahah mursalah. Demikian
pula imam-imam yang lain. Adapun Beberapa Tokoh pemikir hukum pada masa Tabi’in diantaranya sebagai
berikut:
a. Malik bin Anas
b. Al-Auza’iy
c. Sufyan Ats-Tsauriy
d. Sufyan bin Uyainah Al-Hilaliy
e. Al-Laits bin Saad
f. Abdullah bin Al-Mubaarok
g. Waki’ h. Asy Syafi’i
i. Abdurrahman bin Mahdiy
j. Yahya bin Said Al-Qathan
k. Yahya bin Ma’in
l. Ali bin Al-Madiniy.8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hadis pada Masa Tabi'in: Perkembangan Kodifikasi: Pada masa ini, hadis mulai
dikodifikasi secara lebih sistematis, walaupun belum dibukukan secara resmi. Penyebaran Ilmu Hadis: Para Tabi'in menyebarkan hadis ke berbagai wilayah Islam
seperti Kufah, Basrah, Makkah, dan Madinah. Perhatian terhadap Sanad: Para Tabi'in sangat memperhatikan sanad (rantai
perawi) dan mulai menyeleksi hadis berdasarkan keabsahan perawinya. Munculnya
Madrasah Hadis: Terbentuknya kelompok-kelompok atau madrasah hadis di berbagai
kota yang memiliki pendekatan berbeda dalam meriwayatkan hadis. Hadis pada Masa Setelah Tabi'in (Tabi’ut Tabi’in): Kodifikasi Resmi Hadis:
Hadis mulai ditulis dan dibukukan secara resmi, misalnya melalui usaha khalifah
Umar bin Abdul Aziz dan ulama seperti Imam Malik dengan Muwatha’. Peningkatan
Kritik Hadis: Ilmu Musthalah Hadis (ilmu kritik hadis) berkembang, dan metode
untuk menilai keabsahan hadis semakin sistematis. Pengaruh Politik dan Bid’ah: Munculnya hadis palsu karena motif politik, fanatisme golongan, dan aliran sesat memicu para ulama semakin selektif. Lahirnya
Ulama Besar Hadis: Muncul tokoh-tokoh penting dalam ilmu hadis seperti Imam
Malik, Sufyan ats-Tsauri, dan Al-Auza’i yang menjadi fondasi generasi berikutnya. Kesimpulan Umum: Masa Tabi'in dan setelahnya adalah periode penting dalam
perkembangan ilmu hadis, dari tahap hafalan dan penyampaian lisan menuju
kodifikasi tertulis dan sistematis. Ini menjadi fondasi penting bagi pembukuan hadis
di masa-masa berikutnya.9
DAFTAR PUSTAKA
As-Shalih, Subhi, Membahas Ilmu-ilmu Hadis, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2009
Hasbi, T.M. Ash-Shiddieqy, Sejarah Perkembangan Hadis, Jakarta: Bulan Bintang, 1988)
Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang,Pustaka Rizki Putra, 2002),