IPAS KELAS 6 BAB 1 - Document to Flipbook
Published on Sep 26, 2026
Description:
MODUL AJAR IPAS KELAS VI
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Penyusun Saul Silvester Y.T. Sarbunan, S.Pd.,Gr
Satuan Pendidikan SD Negeri 1 Adaut
Tahun Ajaran 2026/2027
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Jenjang/Kelas SD / VI (Enam)
Bab/Topik Spesifik Bab 1 / Bagaimana Tubuh Kita Bergerak?
Alokasi Waktu 20 Jam Pelajaran (JP) @35 menit
B. Identifikasi Murid
Kategori Deskripsi
Pengetahuan
Awal
Peserta didik pada umumnya telah mengetahui bahwa tubuh dapat bergerak,
berlari, dan melompat. Mereka mungkin memiliki pemahaman dasar bahwa ada
"tulang" di dalam tubuh, namun belum memahami secara mendalam konsep
sistem gerak sebagai kerja sama antara rangka, otot, sendi, dan sistem saraf.
Minat Minat peserta didik sangat beragam. Sebagian besar aktif dalam kegiatan fisik
seperti olahraga (sepak bola, bulu tangkis) dan permainan tradisional. Beberapa
lainnya menyukai menari atau bermain gim video, yang semuanya melibatkan
koordinasi gerakan. Minat ini dapat dijadikan sebagai konteks pembelajaran yang
relevan.
Kebutuhan
Belajar
Peserta didik membutuhkan pembelajaran yang konkret dan interaktif. Mereka
belajar paling baik melalui pengalaman langsung (eksperimen, membuat model)
dan aktivitas fisik, bukan sekadar menghafal nama-nama tulang atau otot.
Pendekatan yang mengaitkan materi dengan hobi dan aktivitas sehari-hari akan
meningkatkan motivasi dan pemahaman mereka secara signifikan.
C. Materi Pelajaran
Poin-poin utama materi yang akan dipelajari dalam bab ini meliputi:
1. Rangka, Sendi, dan Otot: Fungsi rangka sebagai penopang tubuh, jenis-jenis sendi yang
memungkinkan pergerakan, dan peran otot sebagai alat gerak aktif.
2. Sistem Saraf: Peran sistem saraf sebagai pusat komando yang menerima rangsangan dan
mengirimkan perintah untuk bergerak.
3. Mekanisme Gerak: Bagaimana rangka, sendi, otot, dan saraf bekerja sama untuk menghasilkan
sebuah gerakan.
4. Gangguan pada Sistem Gerak: Mengenal beberapa penyakit atau kelainan yang dapat menyerang
sistem gerak.5. Cara Menjaga Kesehatan Sistem Gerak: Mengidentifikasi dan menerapkan kebiasaan hidup
sehat untuk menjaga kesehatan tulang, otot, dan sendi.
D. Dimensi Profil Lulusan
Dimensi Elemen yang Dikembangkan
Beriman, Bertakwa
kepada Tuhan YME, &
Berakhlak Mulia
Mensyukuri anugerah Tuhan berupa sistem gerak yang sempurna
dengan cara merawat dan menjaganya (Akhlak kepada diri sendiri).
Gotong Royong Peserta didik berkolaborasi secara efektif dalam kegiatan
kelompok, seperti saat membuat model atau melakukan simulasi,
untuk mencapai tujuan bersama.
Mandiri Menunjukkan inisiatif dan tanggung jawab dalam melakukan
percobaan sederhana dan menyelesaikan tugas-tugas yang
diberikan.
Bernalar Kritis Menganalisis hubungan sebab-akibat (misalnya, antara asupan
kalsium dan kesehatan tulang) dan mengidentifikasi cara kerja
sistem gerak melalui pengamatan dan percobaan.
E. Desain Pembelajaran
Komponen Deskripsi
Capaian
Pembelajaran
(Elemen Pemahaman
IPAS)
Peserta didik dapat melakukan simulasi menggunakan
gambar/bagan/alat/media sederhana tentang sistem organ tubuh manusia
(sistem gerak) yang dikaitkan dengan cara menjaga kesehatan organ
tubuhnya dengan benar.
Lintas Disiplin Ilmu PJOK: Mengaitkan mekanisme gerak dengan aktivitas olahraga dan
pemanasan. SBdP: Membuat karya (model replika tangan) untuk
memahami cara kerja otot dan tulang. Bahasa Indonesia: Menuliskan
laporan pengamatan dan mempresentasikan hasil diskusi.
Tujuan
Pembelajaran Bab
Ini
1. Mengidentifikasi organ tubuh yang berkaitan dengan sistem gerak.
2. Menjelaskan cara tubuh kita bisa bergerak.
3. Mengenal sistem saraf yang mengendalikan tubuh kita.
4. Menjelaskan cara menjaga kesehatan sistem gerak dalam perilaku
sehari-hari.
Praktik Pedagogis
(Pendekatan Deep
Learning)
Model Pembelajaran: Inquiry-Based Learning (Pembelajaran Berbasis
Inkuiri), Discovery Learning (Pembelajaran Penemuan).
Metode:
• Pembelajaran Bermakna (Meaningful): Mengaitkan fungsi sendi
dengan gerakan sholat, olahraga, atau menari. Menganalisis pentingnya
kalsium melalui percobaan telur dan cuka.
• Pembelajaran Menyenangkan (Joyful): Belajar melalui permainan
"Simon Berkata", membuat replika tangan, dan simulasi "pesan berantai"
sistem saraf.
• Pembelajaran Penuh Kesadaran (Mindful): Aktivitas mengamati dan merasakan gerakan sendi sendiri, latihan fokus melalui pengamatan
perubahan pada percobaan, dan refleksi diri tentang postur tubuh.
Pemanfaatan Digital Pemanfaatan video pembelajaran (jika tersedia) tentang animasi sistem
gerak atau simulasi digital interaktif mengenai cara kerja sendi dan otot
sebagai pengayaan.
PENGALAMAN BELAJAR (RINCIAN PER PERTEMUAN)
Blok 1: Aktor di Balik Gerakan Kita (Topik A: Rangka, Sendi, dan Otot)
Pertemuan 1-2: Rangka dan Sendi, Poros Gerakan
● Kegiatan Awal (15 menit)
1. Guru menyapa dan mengajak peserta didik memulai dengan doa.
2. Aktivitas Penuh Kesadaran (Mindful Learning): Guru meminta peserta didik untuk berdiri
dan melakukan beberapa gerakan sederhana: melambaikan tangan, menganggukkan kepala,
menekuk lutut.
3. Guru mengajukan pertanyaan pemantik: "Bagian tubuh mana saja yang baru saja kalian
gerakkan? Mengapa tangan kita bisa melambai, tapi tulang kering kita tidak bisa ditekuk?"
4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: hari ini kita akan mencari tahu "engsel" rahasia di
tubuh kita yang membuat kita bisa bergerak.
● Kegiatan Inti (45 menit)
1. Permainan (Joyful Learning): Peserta didik bermain "Nama Berkata" (modifikasi dari Simon
Says). Guru memberi instruksi, "Nama berkata, sentuh sikumu!", "Nama berkata, putar
pergelangan tanganmu!", "Nama berkata, sentuh lututmu!".
2. Setelah permainan, guru memimpin diskusi: "Bagian-bagian yang tadi kita sentuh disebut
sendi. Sendi adalah penghubung antartulang."
3. Aktivitas Penuh Kesadaran (Mindful Learning): Peserta didik secara individu diminta
menggerakkan kembali siku, bahu, dan lututnya secara perlahan. Mereka diminta merasakan
sejauh mana bagian tersebut bisa bergerak dan ke arah mana saja.
4. Guru menjelaskan bahwa setiap sendi punya kemampuan gerak yang berbeda (seperti sendi
engsel pada siku dan lutut, dan sendi peluru pada bahu).
5. [Kegiatan Literasi - Reading & Analyzing]: Peserta didik membaca teks informasi singkat
berjudul "Petualangan Tulang dan Sendi", lalu mencatat nama-nama sendi serta lokasinya
dalam tabel organ.
6. [Kegiatan Numerasi - Pengelompokan & Data]: Peserta didik menghitung dan
mengelompokkan jumlah sendi utama pada tubuh bagian atas (tangan/bahu) dan bagian bawah
(kaki/pinggul), lalu menentukan rasio atau selisih perbandingannya.
● Kegiatan Penutup (10 menit)
1. Peserta didik menyimpulkan fungsi sendi sebagai penghubung tulang yang memungkinkan
gerakan.
2. Refleksi singkat: "Gerakan apa yang tidak mungkin kita lakukan jika tidak punya sendi di
lutut?" (Contoh: duduk bersila, berlari, melompat).
Pertemuan 3-5: Otot, Si Penggerak yang Kuat
● Kegiatan Awal (15 menit)
1. Guru mengulas kembali tentang rangka dan sendi.
2. Guru menunjukkan sebuah benda (misal: boneka kayu) dan bertanya, "Boneka ini punya tulang
dan sendi, tapi kenapa tidak bisa bergerak sendiri seperti kita?" Pertanyaan ini mengarahkan
pada konsep "penggerak".
● Kegiatan Inti (80 menit)
1. Membuat Replika Tangan (Joyful & Meaningful Learning): Peserta didik secara
berkelompok membuat model tangan manusia menggunakan bahan sederhana seperti kertas
karton (sebagai tulang), sedotan (sebagai jalur otot), dan benang (sebagai otot).2. [Kegiatan Numerasi - Pengukuran Presisi]: Sebelum memotong bahan untuk replika tangan,
peserta didik mengukur panjang telapak tangan dan ruas jari masing-masing menggunakan
penggaris (satuan cm & mm) agar sesuai dengan proporsi ukuran tangan asli.
3. [Kegiatan Literasi - Penyusunan Teks Prosedur & Laporan]: Peserta didik secara
berpasangan menuliskan petunjuk langkah kerja (teks prosedur) pembuatan replika tangan dan
menyusun laporan ringkas hasil uji coba alat tersebut.
4. Langkah-langkah detail:
■ Jiplak telapak tangan di atas kertas karton lalu gunting.
■ Potong sedotan menjadi ruas-ruas pendek dan tempelkan di setiap ruas jari pada karton.
■ Masukkan benang melalui setiap ruas sedotan pada satu jari, lalu satukan semua benang
di bagian "pergelangan tangan" karton.
■ Saat benang ditarik, "jari-jari" karton akan menekuk seperti tangan asli.
5. Setelah model jadi, peserta didik bereksperimen dengan menarik benang dan mengamati
gerakan jari.
6. Diskusi: Guru menjelaskan bahwa benang itu ibarat otot. Otot menarik tulang untuk
menghasilkan gerakan. Kita tidak bisa bergerak tanpa otot.
7. Aktivitas Penuh Kesadaran (Mindful Learning): Peserta didik diminta mengangkat lengan
bawahnya (seperti mengangkat barbel) dan tangan lainnya meraba lengan atas. "Apa yang
kalian rasakan di lengan atas saat lengan bawah diangkat? Itulah otot yang sedang bekerja
(kontraksi)."
● Kegiatan Penutup (10 menit)
1. Peserta didik menjelaskan kembali dengan kata-katanya sendiri bagaimana tulang, sendi, dan
otot bekerja sama untuk membuat tangan bergerak, menggunakan replika yang mereka buat.
2. Guru memberikan penguatan: Rangka adalah penopang, sendi adalah poros, dan otot adalah
penggeraknya.
Blok 2: Pusat Kendali Tubuh (Topik B & C: Sistem Saraf dan Menjaga Kesehatan)
Pertemuan 6-8: Sistem Saraf, Si Pengantar Pesan Kilat
● Kegiatan Awal (10 menit)
1. Permainan Reaksi Cepat (Joyful Learning): Guru secara tiba-tiba menjatuhkan spidol (yang
tidak berbahaya) di depan seorang peserta didik. Amati reaksi spontan peserta didik untuk
menangkapnya.
2. Ajukan pertanyaan: "Bagaimana tanganmu bisa tahu harus bergerak menangkap spidol secepat
itu? Siapa yang memberi perintah?"
● Kegiatan Inti (50 menit)
1. Guru menjelaskan secara sederhana peran sistem saraf sebagai pengirim pesan super cepat
antara tubuh dan otak.
2. Simulasi "Pesan Berantai Saraf" (Joyful Learning):
■ Peserta didik berdiri berbaris memanjang ke belakang.
■ Orang paling belakang akan menepuk bahu orang di depannya. Orang yang ditepuk harus
segera menepuk bahu orang di depannya lagi, begitu seterusnya sampai orang paling
depan mengangkat tangan.
■ [Kegiatan Numerasi - Pengukuran Waktu & Rata-Rata]: Salah Satu anggota Kelompok
menghitung waktu yang dibutuhkan "pesan" untuk sampai ke depan.
3. Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning): Guru mengaitkan simulasi tersebut
dengan cara kerja saraf. Tepukan adalah rangsangan, barisan siswa adalah jalur saraf, dan otak
adalah orang terakhir yang menerima pesan dan memberi perintah (mengangkat tangan).
4. Diskusi: Apa yang terjadi jika ada satu anak dalam barisan yang lambat merespon? (Jawab:
Pesan akan terhambat). Ini menjelaskan mengapa gangguan saraf bisa membuat gerakan
menjadi lambat atau sulit.
5. [Kegiatan Literasi - Diagram Alur & Narasi]: Peserta didik membuat alur kerja sistem saraf
dalam bentuk diagram skematis (Rangsangan → Saraf → Otak → Perintah → Gerakan) dan
menyusun paragraf penjelasan dengan kalimat efektif.
● Kegiatan Penutup (10 menit)
1. Peserta didik membuat alur kerja sederhana di buku mereka: Rangsangan → Saraf → Otak → Perintah → Gerakan.
2. Refleksi: "Sebutkan satu contoh gerakan refleks yang pernah kamu alami!"
Pertemuan 9-11: Menjaga Aset Berharga Kita
● Kegiatan Awal (10 menit)
1. Guru bertanya, "Apa yang terjadi pada tulang jika kita jatuh dengan keras? Pernahkah kalian
melihat orang yang memakai gips?" Diskusi ini mengarah pada pentingnya menjaga kesehatan
tulang.
● Kegiatan Inti (50 menit)
1. Percobaan Kerapuhan Tulang (Meaningful Learning):
■ Guru telah menyiapkan dua buah telur dari 5 hari sebelumnya. Satu telur direndam dalam
air biasa, dan satu lagi direndam dalam cuka.
■ Guru mengeluarkan kedua telur. Peserta didik mengamati perbedaan keduanya. Cangkang
telur yang direndam cuka akan menjadi lunak.
■ Penjelasan: Cangkang telur kaya akan kalsium, sama seperti tulang kita. Cuka melarutkan
kalsium, membuatnya menjadi rapuh. Ini adalah gambaran apa yang terjadi jika tubuh kita
kekurangan kalsium.
2. Diskusi Kelompok: Peserta didik berdiskusi tentang cara menjaga kesehatan sistem gerak.
Guru memberikan beberapa poin pemicu:
■ Makanan apa yang baik untuk tulang? (Susu, keju, sayuran hijau).
■ Mengapa kita perlu berjemur di pagi hari? (Vitamin D membantu penyerapan kalsium).
■ Apa yang harus dilakukan sebelum berolahraga? (Pemanasan untuk mencegah cedera
otot).
■ Bagaimana posisi duduk yang baik? (Tegak, untuk menjaga kesehatan tulang belakang).
3. Setiap kelompok membuat poster sederhana "Cara Jitu Jaga Raga" yang berisi tips menjaga
kesehatan sistem gerak.
● Kegiatan Penutup (10 menit)
1. Setiap kelompok mempresentasikan posternya secara singkat.
2. Komitmen Diri: Setiap peserta didik menuliskan satu kebiasaan sehat yang akan mulai
mereka terapkan.
ASESMEN
Jenis Asesmen Teknik dan Instrumen
Asesmen Awal
(Diagnostik)
Tanya Jawab Lisan: Di awal bab, guru mengajukan pertanyaan pemantik
("Bagaimana tubuh kita bisa bergerak?") untuk memetakan pemahaman awal
peserta didik. Observasi: Mengamati reaksi dan jawaban peserta didik saat
permainan "Nama Berkata".
Asesmen
Formatif
(Proses)
Penilaian Kinerja: Menggunakan rubrik sederhana untuk menilai proses dan
hasil pembuatan "Replika Tangan". Aspek yang dinilai: kerja sama tim,
kemiripan fungsi dengan tangan asli, kemampuan menjelaskan cara kerja
model.
Observasi: Catatan anekdotal guru tentang keaktifan peserta didik dalam
diskusi, simulasi, dan percobaan.
Penilaian Antarteman (Peer Assessment): Saat kerja kelompok membuat
poster, peserta didik saling memberi masukan.
Asesmen
Sumatif (Akhir
Bab)
Proyek Analisis Gerakan (Kinerja): Peserta didik diminta memilih satu
aktivitas sederhana (misal: melempar bola). Kemudian, mereka menjelaskan
secara lisan atau tulisan singkat, organ gerak apa saja yang bekerja sama untuk
melakukan aktivitas tersebut (tulang lengan, sendi siku, otot bisep, perintah dari
otak melalui saraf).Tes Tulis Singkat: 2-3 soal esai berbasis analisis kasus. Contoh: "Mengapa
seorang atlet harus melakukan pemanasan sebelum bertanding? Hubungkan
jawabanmu dengan fungsi otot dan sendi!"
PENGAYAAN DAN REMEDIAL
● Kegiatan Pengayaan:
○ Bagi peserta didik yang sudah memahami konsep dengan cepat, mereka dapat melakukan riset
sederhana tentang salah satu penyakit tulang (misal: osteoporosis atau skoliosis) dan
mempresentasikannya di depan kelas.
○ Mencari tahu tentang sistem gerak pada hewan (misalnya, mengapa burung bisa terbang atau
ikan bisa berenang).
● Kegiatan Remedial:
○ Bagi peserta didik yang masih kesulitan, guru dapat memberikan bimbingan lebih intensif saat
kegiatan pembuatan "Replika Tangan".
○ Menggunakan torso atau model kerangka manusia (jika tersedia) untuk menunjukkan secara
langsung letak tulang dan sendi.
○ Menonton kembali video animasi sederhana tentang cara kerja sistem gerak bersama guru.
REFLEKSI DIRI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK
Refleksi Diri Peserta Didik:
Setelah mempelajari bab ini, jawablah pertanyaan berikut di buku tulismu:
1. Hal baru apa yang paling menarik yang aku pelajari hari ini? Mengapa?
2. Bagian mana dari sistem gerak (tulang, sendi, otot, atau saraf) yang menurutmu paling hebat?
Jelaskan alasanmu!
3. Setelah melakukan percobaan telur dan cuka, apa yang akan kamu lakukan agar tulangmu tetap
kuat?
4. Apakah ada kesulitan yang kamu hadapi saat belajar? Bagaimana caramu mengatasinya?
Refleksi Diri Pendidik:
1. Aktivitas mana yang paling efektif dalam membantu peserta didik memahami konsep sistem gerak
sebagai sebuah kerja sama?
2. Apakah pendekatan Deep Learning (Bermakna, Menyenangkan, Penuh Kesadaran) sudah
terintegrasi dengan baik dalam setiap pertemuan? Bagian mana yang perlu ditingkatkan?
3. Bagaimana saya dapat membantu peserta didik yang masih kesulitan membedakan fungsi otot dan
sendi?
4. Apa temuan menarik dari hasil asesmen formatif yang dapat saya gunakan untuk perbaikan
pembelajaran di bab selanjutnya?
Mengetahui,
Kepala SD Negeri 1 Adaut
Wiliams Neju Amarduan, S.Pd
NIP. 19790807 200312 1 007
Adaut, 17 Juli 2026
Guru Kelas
Saul Silvester Y.T. Sarbunan, S.Pd.,Gr