ojsunik,+Journal+manager,+32-44+YUSMINATUL+SAKDIYAH+-+FORMULASI+DAN+UJI+STABILITAS+FISIK+SEDIAAN+GEL+EKSTRAK+ETANOL+DAUN+SIRSAK+(Annona+muricata+L - Document to Flipbook
Published on Oct 18, 2026
Description:
32
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK SEDIAAN GEL EKSTRAK
ETANOLDAUN SIRSAK (Annona muricata L.) MENGGUNAKAN
VARIASI KONSENTRASI HPMC
FORMULATION AND PHYSICAL STABILITY TEST OF ETHANOL SIRSAK LEAF
EXTRACT GEL (Annona muricata L.) USING VARIATIONS CONCENTRATIONOF
HPMC
Yasminatul Sakdiyah*, Prayoga F. Yuniarto, Datin An Nisa
Program Studi S-1 Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Kadiri
Kediri Universitas Kadiri
e-mail: *[email protected]
ABSTRAK
Obat jerawat yang mengandung antibiotik sintetik dapat menimbulkan berbagai
efek yang tidak diinginkan seperti iritasi dan resistensi. Daun sirsak (Anona muricata
L.) mengandung golongan senyawa metabolit sekunder yang memiliki efek
antiinflamasi dan antibakteri yang berpotensi sebagai antijerawat. Dibutuhkan sediaan
yang lebih praktis dan awet dalam penyimpanan. Gel dipilih karena memberi sensasi
rasa dingin pada kulit dan mudah diaplikasikan di kulit. Gelling agent berpengaruh pada
stabilitas gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi HPMC (Hydroxy
Propyl Methyl Cellulose) yang menghasilkan sediaan gel yang stabil dan hasilstabilitas
fisik gel yang diperoleh. Sediaan gel dibuat dengan konsentrasi ekstrak daun sirsak 12%
dengan variasi konsentrasi Hydroxy Propyl Methyl Cellulose yaitu 2,5%, 3% dan 3,5%.
Konsentrasi Hydroxy Propyl Methyl Cellulose ditentukan secara trial and error. Masingmasing formula dibuat dan dilakukan uji sifat fisik yang meliputi organoleptis,
homogenitas, pH, viskositas, daya lekat dan daya sebar. Gel ekstrak daun sirsak
diperoleh stabil selama 3 siklus pengujian meliputi organoleptis, homogenitas,
viskositas, daya lekat dan daya sebar. pH gel stabil selama 3 siklus untuk konsentrasi
Hydroxy Propyl Methyl Cellulose 2,5% dan 3,5% namun pada formula dengan
konsentrasi Hydroxy Propyl Methyl Cellulose 3% pH gel tidak stabil selama 3 siklus.
Kata kunci : Formulasi dan stabilitas, gel, ekstrak daun sirsak, HPMC (Hydroxy Propyl
Methyl Cellulose)
ABSTRACT
Acne medication containing synthetic antibiotics can cause various side effects
such as irritation and resistance. Sirsak leaves exxtract (Anona muricata L.) contain aclass
compounds of secondary metabolite that have antiinflammatory and antibacterial effects that
have the potential as antiacne. It takes preparations that are more practical and durable
in storage. The gel was chosen because it gives a cooling sensation to the skin and easy
to apply on the skin. Gelling agent affects the stability of the gel. This study aims to
determine the concentration of HPMC (Hydroxy Propyl Methyl Cellulose) which
produces a stable gel preparation and the results of the physical stability of the gel
obtained. The research carried out is experimental. Gel preparations were made with a
concentration of 12% sirsak leaf extract and variations of Hydroxy Propyl Methyl
Cellulose concentrations of 2.5%, 3% and 3.5%. The Hydroxy Propyl Methyl Cellulose33
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
concentration was determined by trial and error. Each formula was made and tested for
physical properties which included organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, adhesion
and spreadability. The results of the sirsak leaf extract gel stability test were obtained stable
for cycling test including organoleptic, homogeneity, viscosity, adhesion and
dispersibility. The pH of the gel was stable for cycling test for the concentration of
Hydroxy Propyl Methyl Cellulose 2.5% and 3.5%, but in the formula with a
concentration of HydroxyPropyl Methyl Cellulose 3% the pH of the gel was unstable for
cycling test.
Keyword : Formulation and stability, gel, sirsak leaf extract, HPMC (Hydroxy Propyl
Methyl Cellulose)
PENDAHULUAN
Salah satu penyakit yang umum terjadi yaitu penyakit kulit. Penyakit kulit
umumnya terjadi karena kurangnya kesadaran untuk menjaga kesehatan sehingga
berpotensi terpapar berbagai mikroorganisme. Penyakit kulit yang umum terjadi yaitu
jerawat (Widyawati et al., 2017). Jerawat merupakan penyakit kulit obstruktif serta
peradangan kronik yang terjadi pada folikel sebasea. Jerawat ditandai dengan adanya
komedo, papula, dan pustule. Jerawat bisa menyerang pada berbagai usia (Setiawan dan
Nurdianti, 2019). Salah satu faktor penyebab timbulnya jerawat yaitu infeksi akibat
koloni bakteri gram positif (Lake et al., 2019). Bakteri tersebut adalah
Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus (Apriliana dan Syafira, 2016;
Padaleti, P.M., Mbulang, Y.K.A. dan Lutsina, 2018).
Jerawat pada umumnya dapat disembuhkan dengan pemberian obat topikal yang
mengandung antibiotik. Obat jerawat yang mengandung antibiotik sintetik dapat
menimbulkan berbagai efek yang tidak diinginkan misalnya, iritasi, resistensi,
kerusakan organ, hingga imunohipersensitivitas. Dibutuhkan alternatif pengganti dari
bahan alami yang mudah ditemukan dan dapat digunakan untuk mengatasi jerawat
(Wardani, 2019). Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa ada beberapa tanaman
yang bisa digunakan sebagai antijerawat. Hal ini didukung oleh tren back to nature yang
kian berkembang di masyarakat.. Tiap tanaman memiliki kandungan senyawa kimia
yang berbeda beserta kadar yang berbeda pula. Kandungan senyawa di tanaman
memiliki manfaat masing–masing. Pemanfaatan tanaman yang ada di Indonesia perlu
dilakukan. Penggunaan secara tradisional membutuhkan waktu penyiapan yang lama
sehingga dibutuhkan formulasi sediaan yang lebih praktis dan awet atau stabil dalam
penyimpanan (Sayuti, 2015).
Tanaman sirsak (Annona muricata L.) merupakan tanaman yang telah dikenal
berbagai macam khasiatnya sebagai obat. Bagian dari tanaman sirsak (Annona muricata
L.) yang dibuktikan bisa berkhasiat sebagai antibakteri adalah daunnya. Menurut
Febriani et al., (2015), simplisia dan ekstrak daun sirsak mengandung golongan
senyawa alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, kuinon, triterpen/steroid,
monoterpen/seskuiterpen dan polifenol. Menurut Lilbaiq, (2017) pelarut yang
digunakan untuk maserasi adalah etanol 96% karena mampu menarik senyawa baik
polar maupun non polar sehingga senyawa yang terkandung dalam sampel simplisia
daun sirsak dapat terekstrak lebih banyak.
Berdasarkan hasil, ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) Memiliki
efektivitasterhadap pertumbuhan Propionibacterium acnes pada konsentrasi 80%, 60%,
40%, dan 20%. Menurut data hasil penelitian Zai et al., (2019) pada konsentrasi ekstrak
20% diperoleh rata-rata diameter zona hambat 9,7 mm. Konsentrasi 40% diperoleh ratarata 13,7 mm. Konsentrasi 60% diperoleh rata-rata zona hambat 15,7 mm. Konsentrasi
80% diperoleh rata-rata 16,3 mm. Berdasarkan penelitian Widyawati et al., (2017)34
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
mengenai formulasi sediaan gel hand sanitizer ekstrak etanol daun sirsak (Annona
muricata L.) sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus diperoleh hasil pada
konsentrasi 12% dalam sediaan gel 100 g dengan berat ekstrak 12 g memiliki daya
hambat sebesar 22 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Menurut penelitian
(Kholisatunnisa, 2017) Salep dengan ekstrak daun sirsak sebanyak 2,5 g dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Pada penelitian de Sousa et al., (2010), menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun
sirsak (Annona muricata L.) yang diujikan terhadap hewan memiliki aktivitas
antiinflamasi. Edema kaki pada hewan berkurang setelah pemberian peroral ekstrak
etanol daun sirsak dengan dosis 200 mg/kg (23.16% dan 29.33%) dan 400 mg/kg
(29.50% dan 37.33%). Dosis 200 mg/kg dan 400 mg/kg yang diberikan secara peroral
empat jam sebelum injeksi karagenan dapat mengurangi volume eksudat (29.25% dan
45.74%) serta migrasi leukosit (18.19% dan 27.95%) secara signifikan. Berdasarkan
pembahasan hasil penelitian diatas, daun sirsak (Annona muricata L.) dapat digunakan
sebagai antibakteri dan antiinflamasi maka dapat dikatakan daun sirsak memiliki
potensi sebagai antijerawat.
Pemilihan sediaan gel juga didasarkan pada kandungan senyawa dalam daun
sirsak yang bersifat polar dan nonpolar sehingga sesuai jika dibuat dalam bentuk
sediaan gel (Lilbaiq, 2017). Upaya memformulasikan ekstrak daun sirsak (Annona
muricata L.) dalam bentuk sediaan gel yakni agar lebih mudah digunakan dan memiliki
penyebaran yang mudah. Penyebaran yang mudah bisa menghantarkan obat dengan baik
(Adrianti, 2016). Gel memiliki efek yang lebih baik dibandingkan dengan krim, karena
gel memiliki jumlah air yang lebih banyak dan dapat menghidrasi stratum korneum.
Tingginya hidrasi membran dapat memudahkan penetrasi karena sifat permeabilitasnya
tinggi (Jafar et al., 2018). Sediaan gel yang bersifat hidrofil dapat berpenetrasi dengan
mudah melalui rute penetrasi transepidermal dan transappendageal (Haque dan
Talukder, 2018).
Untuk mendapatkan gel dengan hasil yang bagus, gel diformulasikan dengan
suatu basis yang bisa digunakan sebagai gelling agent. Pemilihan gelling agent dapat
mempengaruhi sifat fisika dari hasil akhir sediaan (Dewi dan Saptarini, 2016). HPMC
berpengaruh meningkatkan daya lekat sedangkan karbopol menurunkan daya lekat.
Daya lekat menunjukkan kemampuan gel untuk kontak dengan kulit. Gel yang memiliki
daya lekat tinggi akan menempel lebih lama sehingga efektivitas terapinya semakin
optimal (Tambunan dan Sulaiman, 2018). Berdasarkan teori diatas maka dilakukan
pembuatan formulasi dan pengujian stabilitas fisik sediaan gel ekstrak etanol daun
sirsak (Annona muricata L.) dengan konsentrasi 12% dalam sediaan gel 100 g seperti
penelitian Widyawati et al., (2017) yang memiliki daya hambat pada Staphylococcus
aureus. Peneliti memformulasikan gel variasi konsentrasi HPMC bertujuan mengetahui
berapakah konsentrasi HPMC yang dapat menghasilkan sediaan gel ekstrak daun sirsak
(Annona muricata L.) dengan stabilitas fisik yang baik dan mengetahui hasil stabilitas
fisik gel ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) yang menggunakan gelling agent
HPMC. Untuk kestabilan fisika sediaan gel dilakukan uji stabilitas dipercepat
menggunakan Cycling test.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang akan peneliti gunakan yaitu metode penelitian
eksperimental. Populasi pada penelitian ini yaitu tanaman sirsak yang ada di area UPT
Laboratorium Herbal Materia Medika Batu. Sampel yang digunakan pada penelitian ini
adalah daun sirsak berwarna hijau tua. Teknik sampling yang digunakan adalah35
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
purposive sampling. Teknik purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel
yang dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti semata yang menganggap bahwa
unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang diambil, yaitu
dengan menggunakan daun segar berwarna hijau tua.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia dan Bahan Alam, Laboratorium
Farmasetika serta Laboratorium Teknologi dan Instrumentasi Farmasi Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Kadiri, Kediri, Jawa Timur. Adapun alat yang digunakan dalam
penelitian ini adalah nampan, bejana maserasi, blender, mesh 60, timbangan digital
(OHAUS), hotplate stirer, moisture analyzer Ohaus MB25, beaker glass (Pyrex), gelas
ukur, tabung reaksi, batang pengaduk, pipet, cawan porselin, gelas arloji, mortir,
stamper, sendok tanduk, pH meter, kaca preparat, botol timbangan, anak timbang (PROTIS), oven (B-One(OV-30)), dan viscometer stormer VS-50-DG. Adapun bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak daun sirsak, etanol 96% pa , kertassaring,
logam Mg, HCl Pekat, kloroform, asam asetat glasial (JRP), asam sulfat pekat (JRP),
pereaksi FeCl3 (JRP), pereaksi mayer, dragendrorf, HPMC (Aloin), TEA, gliserin,
Nipagin (Aloin), dan Aqua destilata (Aloin).
Pembuatan Ekstrak
Pembuatan ekstrak daun sirsakpada penelitian kali ini dilakukan dengan metode
maserasi menggunakan pelarut etanol 96% (1:7,5) selama 3x24 jam dan dilanjutkan
remaserasi menggunakan pelarut etanol 96% (1:5) selama 2x24jam (Baud et al., 2014).
Skrining Fitokimia
Ekstrak kental yang telah diperoleh dilakukan identifikasi fitokimia meliputi
flavonoid, tannin, saponin, triterpen/steroid, dan alkaloid
Formulasi Gel
Formula gel 100 g ditentukan konsentrasinya menggunakan acuan dari
beberapa jurnal dan Handbook of Pharmaceutical Excipient
Tabel 1 Formula gel ekstrak daun sirsak
Baha
n
Konsentrasi (%)
Kegunaan F1 F2 F3
Ekstrak daun sirsak 12 12 12 Bahan Aktif
HPMC 2,50 3,0 3,50 Basis Gelling agent
Trietanolamin 2,5 2,5 2,5 Penjernih, humektan
Gliserin 10 10 10 Humektan
Nipagin 0,2 0,2 0,2 Pengawet
Aqua destilata ad 100 100 100 Pelarut
Pembuatan Gel
Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Siapkan mortir panas dan aqua
destilata panas. Masukkan aqua destilata panas kedalam mortir. Timbang HPMC.
Taburkan HPMC diatas aqua destilata yang sudah dipanaskan. Aqua destilata yang
dibutuhkan adalah perbandingan (1:10) dengan HPMC. HPMC yang sudah ditabur
diaduk cepat hingga terbentuk massa gel dan ditambahkan TEA sebanyak 2,5 g. Metil
paraben ditimbang sebanyak 0,2 g dan dilarutkan dalam aqua destilata sebanyak 5 mL,
dimasukkan ke dalam mortir, diaduk sampai homogen. Gliserin 10 ml ditambahkan
kedalam mortir, diaduk sampai homogen. Ekstrak daun sirsak 12 g yang telah dilarutkan
dalam aqua destilata masukkan mortir diaduk sampai homogen hingga membentuk gel.
Sediaan dibuat triplo (Widyawati et al., 2017).
Uji Stabilitas Gel
Tiap siklus disimpan 24 jam di kulkas dengan suhu 40C kemudian dipindahkan
ke dalam oven dengan suhu 400C selama 24 jam. Setiap selesai 1 siklus, dilakukan uji36
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
fisik yang meliputi daya sebar, daya lekat, pH dan viskositas (Tambunan dan Sulaiman,
2018). Pengujian yang dilakukan adalah uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas,
daya lekat dan daya sebar gel. Pengujian gel dilakukan setelah dua hari karena dianggap
sudah tidak ada lagi pengaruh gaya atau energi yang diberikan selama proses
pembuatan sediaan yang dapat mempengaruhi gel (Wulandari, 2015).
Uji Organoleptis
Pemeriksaan organoleptis dilakukan dengan cara melakukan pengamatan
terhadap bentuk tampilan fisik dari sediaan yang meliputi bentuk, warna, dan bau.
(Tambunan dan Sulaiman, 2018).
Uji Homogenitas
Homogenitas gel diamati secara visual dengan mengoleskan gel pada permukaan
kaca objek. Diamati apakah terdapat butiran kasar atau bagian yang tidak tercampur
dengan baik. Jika tidak ditemukan berarti homogen. Dilakukan uji triplo (Tambunan dan
Sulaiman, 2018).
Uji pH
Pemeriksaan pH dilakukan menggunakan stick pH, warna yang muncul
dibandingkan dengan standar warna pada kisaran pH yang sesuai. Dilakukan uji triplo
(Tambunan dan Sulaiman, 2018).
Uji Viskositas
Sediaan gel diletakkan pada bagian bawah alat uji pada viskometer stromer,
kemudian celupkan spindle hingga tenggelam pada sediaan. Atur kecepatan yang
digunakan dan viscometer stormer dijalankan, kemudian viskositas dari gel terbaca.
Nilai viskositas gel yang baik berada pada rentang 2000-4000 cPs, karena dengan
kekentalan tersebut gel mampu menyebar dengan baik saat diaplikasikan. Dilakukan uji
triplo (Forestryana et al., 2020).
Uji Daya Lekat
Gel ditimbang 0,1 g. Oles di atas kaca objek yang ditandai dengan luas 2 x 2 cm.
Kaca objek lain diletakkan di atas gel tersebut. Beri beban 1 kg di atas kaca objek
selama 5 menit, kemudian kaca objek dipasang pada alat uji daya lekat yang telah diberi
beban 80 g. Waktu dicatat setelah kedua objek tersebut memisah. Dilakukan uji triplo
(Tambunan dan Sulaiman, 2018).
Uji Daya Sebar
Gel 0,5 g diletakkan di tengah cawan petri yang telah ditempeli dengan kertas
millimeter blok. Penyebaran gel diukur dengan diameter gel yang menyebar dari dua
sisi setelah dibiarkan selama 1 menit. Pengukuran diameter gel dimulai tanpa beban,
kemudian ditambahkan beban 50 g, 100 g, 150 g, 200 g, dan dicatat diameter
penyebaran gel setelah 1 menit. Dilakukan uji triplo (Tambunan dan Sulaiman, 2018;
Yuniarto et al., 2014)
Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dilakukan dengan cara
menghitung rata-rata dan formula yang diuji diantaranya uji pH, viskositas, daya sebar,
daya lekat. Data yang diperoleh pada pengujian evaluasi kemudian dianalisa
menggunakan SPSS. Uji statistik yang dilakukan adalah uji normalitas, homogenitas
kemudian dilanjutkan dengan menggunakan analisis variansi satu arah (ANOVA)
dengan taraf kepercayaan 95% (α = 0,05) untuk melihat adanya perbedaan antar
kelompok formula gel (Forestryana et al., 2020). Jika data berdistribusi tidak normal,
maka dianalisis menggunakan KruskalWallis (Sayuti, 2015).37
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sampel daun sirsak yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari UPT
Laboratorium Herbal Materia Medica Batu. Daun sirsak yang diambil adalah
keseluruhan daun segar berwarna hijau tua. Teknik sampling yang digunakan adalah
purposive sampling yakni atas dasar pertimbangan peneliti semata yang menganggap
bahwa unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang diambil,
yaitu dengan menggunakan daun segar berwarna hijau tua. Daun sirsak dipetik pada
pagi menjelang siang hari. Daun sirsak dipetik sekitar pukul 10.00–12.00 WIB di bawah
sinar matahari yang cukup karena terjadi proses fotosintesis yang maksimal pada waktu
tersebut (Asmonie et al., 2013). Daun sirsak yang terlalu muda belum banyak
mengandung senyawa yang terbentuk, sedangkan kandungan pada daun yang terlalu tua
sudah mulai rusak sehingga kadarnya berkurang. Daun sirsak untuk pengobatan
sebaiknya dipilih daun yang tidak terlalu tua maupun terlalu muda (Lubis, 2018).
Daun sirsak segar yang diperoleh dilakukan sortasi basah dengan cara daun segar
sirsak dicuci menggunakan air mengalir. Tujuan sortasi basah adalah untuk memisahkan
kotoran-kotoran yang menempel di daun sirsak dengan menggunakan air bersih yang
mengalir (Widyawati et al., 2017). Daun sirsak yang sudah disortasi kemudian
dilakukan penirisan, perajangan dan pengeringan. Penirisan bertujuan untuk mengurangi
air bilasan dan pengotor yang ada di air bilasan. Perajangan bertujuan untuk
memperluas permukaan bahan atau simplisia agar dapat mempermudah proses
pengeringan (BPOM, 2012). Semakin tipis simplisia yang akan dikeringkan maka
semakin cepat penguapan air yang terjadi (Sudrajad, 2014). Proses pengeringan dapat
mempengaruhi kualitas simplisia (Winangsih et al., 2013). Tujuan pengeringan adalah
agar dapat mengurangi kadar air dan daun sirsak terhindar dari pertumbuhan mikroba
sehingga diperoleh simplisia yang awet serta tidak mudah rusak. Simplisia dapat
disimpan dalam jangka waktu yang relatif lebih lama (Lilbaiq, 2017). Potongan daun
sirsak yang diperoleh dikeringkan pada tenda pengeringan simplisia yang terdapat di
materia medika pada suhu 40-50oC selama 4 hari. Pengeringan ini merupakan
pengeringan yang menggunakan tenda surya dengan aliran udara yang diatur serta pada
area yang terbebas dari kontaminasi (BPOM, 2012).
Simplisia daun sirsak dilakukan penyerbukan. Proses penyerbukan dapat
mempengaruhi mutu ekstrak (BPOM, 2012). Sampel simplisia yang diperoleh untuk
penelitian ini adalah serbuk simplisia daun sirsak sebanyak 1500 g dengan kode
produksi atau No batch 200907.SRS.F.003. Serbuk simplisia yang diperoleh diayak lagi
menggunakan mesh 60 dan diperoleh serbuk halus seberat 1420 g. Serbuk simplisia
diayak bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel simplisia. Semakin kecil ukuran
serbuk maka serbuk semakin halus sehingga luas permukaan semakin besar. Semakin
besar luas permukaan serbuk akan memperbesar kontak serbuk simplisia dengan larutan
penyari sehingga penyari lebih mudah dalam menarik senyawa aktif (Aji, 2018).
Ekstrak yang diperoleh ialah 208,8 g dari 1200 g simplisia daun sirsak.
Rendemen ekstrak yang diperoleh ialah 17,4 %. Berdasarkan hasil skrining fitokimia.
Ekstrak daun sirsak mengandung golongan senyawa flavonoid, tannin, triterpen, steroid,
saponin, dan alkaloid
Tabel 1. Hasil Skrining Fitokimia
Identifikasi Keteranga
n
Flavonoid +
Tanin +38
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
Triterpen +
Steroid +
Saponin +
Alkaloi
d
+
Formulasi Gel
Pembuatan gel ekstrak daun sirsak dibuat pada mortir hangat. HPMC
dikembangkan dengan cara diaduk dalam air yang telah dipanaskan sehingga terbentuk
gel yang diinginkan (Dewi dan Saptarini, 2016). Sebelum dilakukan mixing, metil
paraben dilarutkan terlebih dahulu pada aqua destilata. Secara berurutan, TEA
ditambahkan pada masa gel, metil paraben yang telah larut dan gliserin diaduk hingga
homogen. Kemudian ekstrak daun sirsak yang telah larut dimasukkan ke mortar dan
diaduk hingga terbentuk gel (Widyawati et al., 2017). Pada 48 jam pertama gel
disimpan pada suhu ruangan untuk diuji siklus 0. Selanjutnya gel disimpan dalam
kulkas dengan suhu 4oC selama 24 jam lalu gel dimasukkan dalam oven dengan suhu
40oC dan diuji siklus yang pertama. Begitu seterusnya hingga 3 siklus tercapai.
Uji Stabilitas Gel
Cycling test atau uji freeze and thaw adalah metode uji yang disarankan untuk
sediaan cair dan semisolid. Uji siklus ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas suatu
sediaan dengan berbagai pengaruh suhu. Cycling test gel pada formula ekstrak daun
sirsak dilakukan selama 3 siklus (Tambunan dan Sulaiman, 2018). Sediaan yang dapat
melewati tahap ini dapat dikatakan stabil. Uji siklus ini dilakukan bertujuan untuk
menunjukkan bahwa sediaan stabil selama masa distribusi maupun penyimpanan
(Yogesthinaga, 2016). Pengujian yang dilakukan adalah uji organoleptis, homogenitas,
pH, viskositas, daya lekat dan daya sebar gel. Pengujian gel dilakukan setelah dua hari
karena dianggap sudah tidak ada lagi pengaruh gaya atau energi yang diberikan selama
proses pembuatan sediaan yang dapat mempengaruhi gel (Wulandari, 2015).
Uji Organoleptis
Hasil uji organoleptis menunjukkan setelah uji siklus 0 sampai siklus 3 tidak
mengalami perubahan secara organoleptis, yakni berdasarkan warna, bau, bentuk
maupun kejernihan. Hal ini dapat dikatakan bahwa gel sudah cukup stabil selama
penyimpanan. Bau khas gel berasal dari ekstrak. Warna hijau kecoklatan diperoleh dari
warna ekstrak kental daun sirsak, sehingga mempengaruhi warna keseluruhan gel
(Damayanti, 2016). Gel pekat dikarenakan penambahan ekstrak kental, sehingga
menimbulkan bekas warna bila dioleskan. Sriarumtias et al., (2017) menyatakan bahwa
hasil yang paling stabil yaitu pada ekstrak daun sirsak 9% karena lebih encer dan
warnanya lebih transparan, hal itu karena penambahan ekstrak daun sirsak yang tidak
terlalu banyak. Sehingga penambahan esktrak berpengaruh terhadap kejernihan sediaan
gel.
Tabel 2. Hasil uji organoleptis
Formula Karakterisa
siyang
diamati
Pengamatan organoleptis
Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3
Formula
I(2,5%)
Warna Hijau
kecoklata
n
Hijau
kecoklata
n
Hijau
kecoklata
n
Hijau
kecoklata
n
Bau
Aroma
khas
ekstrak
Aroma
khas
ekstrak
Aroma
khas
ekstrak
Aroma
khas
ekstra
k
Bentuk Semisoli Semisoli Semisoli Semisoli39
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
d d d d
Kejerniha
n
Pekat Pekat Pekat Pekat
Formul
aII
(3%)
Warna Hijau
kecoklata
n
Hijau
kecoklata
n
Hijau
kecoklata
n
Hijau
kecoklata
n
Bau
Aroma
khas
ekstrak
Aroma
khas
ekstrak
Aroma
khas
ekstrak
Aroma
khas
ekstra
k
Bentuk Semisoli
d
Semisoli
d
Semisoli
d
Semisoli
d
Kejerniha
n
Pekat Pekat Pekat Pekat
Formul
aIII
(3,5%)
Warna Hijau
kecoklata
n
Hijau
kecoklata
n
Hijau
kecoklata
n
Hijau
kecoklata
n
Bau
Aroma
khas
ekstrak
Aroma
khas
ekstrak
Aroma
khas
ekstrak
Arom
a
khas
ekstrak
Bentuk Semisoli
d
Semisoli
d
Semisoli
d
Semisoli
d
Kejerniha
n
Pekat Pekat Pekat Pekat
Uji Homogenitas
Hasil uji homogenitas gel dinyatakan homogen karena tidak terbentuk butirbutir kasar. Menurut pengujian visual gel ekstrak daun sirsak memenuhi kriteria
sediaan yang baik dari segi homogenitas. Homogenitas penting dalam sediaan gel
karena berkaitan dengan keseragaman kandungan jumlah zat aktif dalam setiap
penggunaan (Wulandari, 2015). Hal ini menunjukkan bahwa kandungan zat aktif ekstrak
daun sirsak memiliki keseragaman kandungan dan bahan-bahan telah tercampur merata.
Diharapkan tiap olesan gel yang digunakan memiliki efek yang sama. Berdasarkan
Tabel dapat dikatakan bahwa HPMC mampu menghasilkan gel yang stabil secara
homogenitas dari siklus 0 hingga siklus 3.
Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas
Formula Karakterisa
siyang
diamati
Pengamatan homogenitas
Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3
Formula I (2,5%) Homogenitas Homoge
n
Homoge
n
Homoge
n
Homoge
n
Formula II (3%) Homogenitas Homoge
n
Homoge
n
Homoge
n
Homoge
n
Formula III
(3,5%)
Homogenitas Homoge
n
Homoge
n
Homoge
n
Homoge
n
Uji pH
Gel ekstrak daun sirsak yang diperoleh dari masing-masing konsentrasi gel
selama 4 siklus masuk kedalam rentang pH kulit yang telah ditentukan yaitu antara 4,5-
6,5 sehingga aman digunakan dan dapat diterima konsumen. Berdasarkan standar SNI
16-4399-1996, nilai pH pada ketiga formula tersebut masuk kedalam rentang nilai pH
yang dianjurkan untuk sediaan topikal yaitu 4,5 – 8,0 (Jafar et al., 2018). pH gel yang
terlalu asam dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan apabila pH gel terlalu basa maka
dapat menyebabkan kulit bersisik (Widyawati et al., 2017).40
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
Tabel 4. Hasil Uji pH
Formula
p
H
Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3
Formula I (2,5%) 6,33±0,03 6,24±0,06 6,26±0,08 6,26±0,05
Formula II (3,%) 6,36±0,03 6,35±0,01 6,32±0,05 6,22±0,01
Formula III
(3,5%)
6,5±0,06 6,37±0,01 6,43±0,03 6,41±0,06
Pada uji ANOVA F1 dan F3 memiliki nilai p >0,05 serta F2 <0,05. F1 dan F3
mengalami kenaikan dan penurunan pH, namun kenaikan dan penurunan ini masih
dikatakan stabil. Pada F2 terjadi tidak stabil dan mengalami penurunan pH namun masih
memenuhi rentang pH fisiologis. Karena gel HPMC memiliki kisaran pH 5-8, maka pH
6 tidak akan merusak komponen-komponen yang digunakan. Penurunan pH
kemungkinan karena perubahan suhu serta kondisi penyimpanan pada waktu
pengamatan (Rahmawati, 2012). Menurut Astuti, (2017) penurunan pH tersebut dapat
disebabkan faktor lingkungan seperti suhu dan penyimpanan yang kurang baik.
Uji Viskositas
Tabel 5. Hasil Uji Viskositas
Formula Viskositas Pada Siklus
(cPs)
Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3
Formula I (2,5%) 1794,83±257,
8
1739,04±350,6 1513,2±0 1850,62±292,
2
Formula II (3%) 1065,54±128,
7
1149,94±49,5 981,1867±96,
6
1094,107±83,
6
Formula III
(3,5%)
737,11±29,2 720,22±29,2 703,5967±50,
2
703,5967±50,
2
Parameter viskositas gel yang baik adalah 2000-4000 cPs (Forestryana et al.,
2020). Berdasarkan tabel, rata-rata viskositas F1 hampir mendekati rentang yang
ditentukan. Viskositas sediaan gel dipengaruhi oleh faktor seperti pencampuran atau
pengadukan ketika proses pembuatan sediaan gel, pemilihan basis dan humektan,serta
ukuran partikel. Berdasarkan tabel, terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi
HPMC maka viskositasnya semakin meningkat (Dewi dan Saptarini, 2016).
Peningkatan konsentrasi HPMC bisa meningkatkan jumlah serat polimer sehingga
semakin banyak juga cairan yang tertahan dan terikat oleh gelling agent. Hal ini
mengakibatkan viskositas sediaan gel menjadi meningkat (Yulin, 2015). Pada Anova
diperoleh hasil nilai >0,05, maka F1, F2 dan F3 stabil selama penyimpanan secara
viskositas. Pada F2, pHnya tidak stabil namun memiliki viskositas yang stabil. Hal ini
dikarenakan HPMC dapat stabil pada pH 3 sampai 11, bersifat netral, serta vikositasnya
stabil walaupun disimpan dengan jangka waktu yang lama (Dewi dan Saptarini, 2016).
Menurut Tambunan dan Sulaiman, (2018) HPMC tidak dipengaruhi oleh pH untuk
terjadi gelling.
Uji Daya Lekat
Gel ekstrak daun sirsak memiliki hasil yang memenuhi syarat yaitu lebih dari 1
detik (Irianto et al., 2020). Semakin lama gel melekat pada kulit maka semakin banyak
zat aktif yang berdifusi ke dalam kulit, sehingga makin efektif penggunaannya (Budi et41
Article Information
Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022
al., 2018). Daya lekat berbanding lurus dengan viskositas. Jika viskositas kecil maka
daya lekat juga akan menurun. Viskositas yang kecil cenderung cair sehingga
kemampuan melekat akan lebih kecil atau dalam waktu yang singkat (Uchti dan
Wahyuningsih, 2015). Berdasarkan hasil ANOVA, diperoleh hasil bahwa F1, F2 dan F3
memiliki nilai p >0,05. Dapat dikatakan bahwa daya lekat gel ekstrak daun sirsak stabil
selama masa penyimpanan.
Tabel 6. Hasil Uji Daya Lekat
Formula
Daya lekat
(detik)
Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3
Formul I (2,5%) 10,45±0,173 10,56±0,90
3
10,23±0,37
8
10,213±0,481
Formula II (3%) 19,636±1,13
4
19,35±1,10
4
19,67±1,64
1
19,27±0,775
Formula II (3,5%) 30,82±0,996 30,52±0,39
0
30,99±0,44
5
30,40±0,445
Uji Daya Sebar
Hasil uji daya sebar yang diolah untuk analisis data adalah pada uji yang
ditimpa beban 200 g karena dianggap merupakan daya sebar yang konstan dan
sesungguhnya. Uji daya sebar merupakan uji yang penting dilakukan, beban yang
digunakan pada uji ini daya sebar dapat mempengaruhi luas penyebaran gel, semakin
besar beban yang diberikan maka semakin lebar daya sebar yang dihasilkan.
Kemampuan daya sebar gel yang semakin besar maka akan memudahkan sediaan gel
saat diusapkan (Widyawati et al., 2017). Berdasarkan hasil rata-rata uji daya sebar
formula I dengan konsentrasi HPMC 2,5%, formula II 3% memiliki daya sebar diatas 5
cm dan formula III 3,5% yang diperoleh dibawah 5 cm. F1 dan F2 termasuk dalam gel
semicair dan F3 termasuk dalam gel semikaku. Menurut Garg et al., (2002) jika
diameter daya sebar kurang dari 5 cm maka sediaan gel tergolong dalam sediaan yang
semikaku (semistiff), jika diameter daya sebar antara 5-7 cm, maka gel tergolong dalam
sediaan yag semicair (semifluid). Menurut Garg et al., (2002) daya sebar sediaan
semipadat yang baik untuk penggunaan topical berkisar pada diameter 3-5 cm,
sehingga gel dalam penelitian ini memenuhi syarat Garg et al., (2002). Daya sebar yang
dikehendaki adalah pada rentang 3-5 (Aeni et al., 2012; Yogesthinaga, 2016). Daya
sebar berbanding terbalik dengan viskositas dan daya lekat, semakin besar nilai
viskositas serta daya lekat maka daya sebar akan menurun (Damayanti, 2016). Pada uji
ANOVA diperoleh hasil >0,05 maka dinyatakan bahwa F1, F2 dan F3 stabil selama
penyimpanan 3 siklus.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. HPMC dengan konsentrasi 2,5%, 3% dan 3,5% dapat menghasilkan sediaan gel
ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) dengan stabilitas fisik yang baik.
2. Gel ekstrak daun sirsak dengan variasi konsentrasi HPMC sebagai gelling agent
stabil selama penyimpanan 3 siklus secara organoleptis, homogenitas, viskositas,
daya lekat dan daya sebar. pH gel stabil selama 3 siklus untuk konsentrasi HPMC
2,5% dan 3,5% namun pada formula dengan konsentrasi HPMC 3% pH gel tidak
stabil selama 3 siklus.
Saran
1. Perlu dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dan antiinflamasi gel ekstrak daun