16223-61051-1-PB - PDF to Flipbook
Published on Aug 24, 2026
Description:
Jurnal Manajemen Pendidikan (JMP) e-ISSN 2654-3508
Volume 13 Nomor 1 April 2024 p-ISSN 2252-3057
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 163
PERENCANAAN PROGRAM SEKOLAH UNTUK PENINGKATAN
MUTU PENDIDIKAN DI SMA NEGERI 3 PEKALONGAN
Steffi Dian Kemalasari1
, Ngurah Ayu Nyoman M.
2
, Endang Wuryandini3
1,2,3Manajemen Pendidikan Pascasarjana UPGRIS
Email : [email protected]
Abstrak
Perkembangan zaman yang signifikan menuntut lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan dan turut serta dalam perubahan yang terjadi sehingga diperlukan strategi atau cara
yang harus diambil untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan. Sebuah lembaga pendidikan
yang memiliki manajemen strategik yang baik bisa mengetahui dan merencanakan program
sekolah sesuai dengan kebutuhan warga sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
perencanaan program di SMA Negeri 3 Pekalongan. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah,
tim TPMPS, perwakilan guru dan tenaga kependidikan yang terlibat dalam perencanaan program
sekolah. Desain penelitian mengacu pada langkah-langkah Borg and Gall yang disesuaikan
dengan kebutuhan penulis. Metode penelitian menggunakan wawarncara, observasi dan
dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan perencanaan program yang dilakukan sekolah harus
memperhatikan komponen-komponen yang menyertai penyusunan program sekolah.
Perencanaan program sekolah dilakukan melalui berbagai tahapan. Sekolah mengembangkan
program dengan melihat referensi terkait dinamika perubahan, perencanaan berbasis data,
ekspektasi konsumen dan anggaran.
Kata kunci : perencanaan, program sekolah, worksheet analisis
Abstract
Significant contemporary developments require educational institutions to achieve educational
goals and participate in the changes that occur so that strategies or methods must be taken to
improve the quality of education. An educational institution that has good strategic management
can know and plan school programs according to the needs of the school community. The
purpose of this research is to find out program planning at SMA Negeri 3 Pekalongan. Research
subjects included school principals, TPMPS teams, teacher representatives and education staff
involved in school program planning. The research design refers to Borg and Gall's steps which
were adapted to the author's needs. The research method uses interviews, observation and
documentation. The research results show that program planning carried out by schools must
pay attention to the components that accompany the preparation of school programs. School
program planning is carried out through various stages. Schools develop programs by looking at
references related to dynamics of change, data-based planning, consumer expectations and
budgets.
Keywords: planning, school program, analysis worksheet
A. PENDAHULUAN
Perubahan zaman yang semakin berkembang memberikan perubahan pula pada sektor
pendidikan. Menyikapi dinamika dan perubahan zaman yang semakin maju tersebut Perencanaan Program Sekolah Untuk Peningkatan
Mutu Pendidikan Di SMA Negeri 3 Pekalongan
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 164
lembaga pendidikan dituntut untuk dapat mengambil bagian dalam menata perubahan.
Lembaga pendidikan harus dapat menyesuaikan perkembangan zaman yang terjadi agar
output pendidikan yang dihasilkan dapat bersaing dengan baik dalam perubahan.
Peningkatan mutu pendidikan di sekolah dapat dilihat melalui suatu proses manajemen
dari lembaga pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang penting karena pendidikan
merupakan salah satu bagian penting dalam proses pembangunan nasional yang ikut
menentukan kualitas suatu negara sehingga diperlukan usaha-usaha untuk dapat
meningkatkan mutu pendidikan.
Pengelolaan satuan pendidikan yang diimplementasikan dalam bentuk rencana kerja
tahunan merupakan penjabaran rinci dari rencana kerja menengah satuan pendidikan yang
lamanya 4 (empat) tahun. Kebijakan tentang pengelolaan pendidikan tersebut dijelaskan
secara rinci pada Peraturan Pemerintah No 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional
Pendidikan. Standar Pengelolaan merupakan tolak ukur di antara delapan standar nasional
pendidikan lainnya dalam penyusunan dan perencanaan program di sekolah. Sesuai
Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 27 tentang
Standar Pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan
pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiesi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan.
Dalam sebuah perencanaan pendidikan di dalamnya terdapat visi, misi, dan tujuan
sekolah. Visi, misi, dan tujuan merupakan identitas suatu sekolah sekaligus hal yang akan
dicapai sekolah tersebut. Namun pada kenyataannya dalam perencanaan program sekolah
belum sepenuhnya memenuhi standar perencanaan program. Dimana di dalam
perencanaan program sekolah pada kegiatan perumusan dan penetapan visi, misi, tujuan
dan rencana kerja sekolah belum sepenuhnya mengacu kebijakan Permendiknas Nomor 19
Tahun 2007. Hal tersebut dapat dilihat dari kurangnya sosialisasi kepala sekolah kepada
warga sekolah terkait perencanaan program sekolah. Pada dasarnya, sekolah dikatakan
bermutu jika mampu melaksanakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang setidaknya
memenuki Standar Pelayanan Minimal (SPM). Apabila Standar Pelayanan Minimal
penidikan tercapai maka indikator mutu layanan dapat naik dari tahun ke tahun. Namun
pada kenyataannya masih terdapat sekolah-sekolah yang belum memenuhi Standar
Pelayanan Minimal dalam hal standar pengelolaan. Perlu adanya peninjauan khusus dalam
standar pengelolaan agar memperoleh standar yang minimal.
Salah satu hal yang menjadi tolok ukur pencapaian mutu sekolah adalah dengan
menggunakan acuan rapor pendidikan. Rapor pendidikan merupakan platform yang
menyediakan data laporan hasil evaluasi sistem pendidikan sebagai penyempurnaan rapor
mutu yang sudah ada sebelumnya. Platform ini digunakan sebagai acuan untuk
mengidentifikasi, merefleksi, dan membenahi kualitas pendidikan Indonesia secara
menyeluruh dengan sistem yang terintegrasi (Kemdikbudristek, 2022). Rapor pendidikan
menjadi dokumen perencanaan yang ideal bagi satuan pendidikan dalam menampilkan
akar masalah yang dihadapi sekolah sehingga diharapkan dapat menghadapi masalah
secara efisien, fleksibel, transparan, dan akuntabel.Steffi Dian Kemalasari, Ngurah Ayu Nyoman M., Endang Wuryandini
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 165
Sebuah lembaga pendidikan tentu memiliki manajemen strategik yang bisa
mengetahui dan merencanakan strategi agar sekolah mampu bertahan dan makin
meningkatkan mutu pendidikan di masa yang akan datang. Dalam manajemen strategik
hal yang paling mendasar adalah analisis dari berbagai sudut pandang baik yang bersifat
internal maupun eksternal yang kita kenal dengan istilah SWOT (strenghts, weakness,
opportunity, and threats) (Suriono, 2022). Melalui analisis SWOT, suatu lembaga
pendidikan dapat melihat kekuatan dan kelemahan dari lingkungan internal sekolah serta
melihat peluang dan hambatan dari lingkungan eksternal sekolah. Hasil capaian rapor
pendidikan Tahun 2021 menunjukkan ada beberapa hal yang perlu dibenahi dalam hal
perencanaan program sekolah agar kualitas lembaga pendidikan tersebut meningkat.
Dengan adanya perencanaan maka akan diketahui bagaimana proses pendidikan berjalan
dan tujuan yang diharapkan bisa tercapai.
Analisis SWOT merupakan bagian dari tahap perencanaan strategis suatu organisasi
yang terdiri dari analisis faktor internal dan eksternal sekolah. Yang termasuk faktor
internal adalah kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunity), sedang yang termasuk
faktor eksternal adalah kelemahan (Weakness) dan tantangan (Threath). Menurut Freddy
Rangkuti (dalam Rochman, 2019) analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor
sistematis untuk merumuskan strategi sebuah organisasi. Jika analisis ini digunakan
dengan baik maka sekolah akan mendapat gambaran menyeluruh mengenai situasi sekolah
dalam hubungannya dengan masyarakat, lingkungan sekitar, lembaga-lembaga pendidikan
lain, dan jenjang lanjutan yang akan dimasuki siswa. Pemahaman mengenai faktor internal
dan eksternal ini akan membantu pengembangan visi masa depan serta membuat program
yang relevan dan inovatif. Menurut Eddy (2020) The McKinsey Framework
dikembangkan oleh Tom Peters dan Robert Waterman pada awal tahun 1980. McKinsey’s
7s framework sebagai modal manajemen berbasis nilai (value based management) yang
mendeskripsikan bagaimana seseorang dapat secara holistik dan efektif mengorganisasi
sebuah lembaga (company). Model 7S McKinsey melibatkan 7 faktor yang saling
bergantung. Hard elements mudah untuk didefinisikan dan manajemen dapat secara
langsung memengaruhinya. Soft elements bisa menjadi lebih sulit dideskripsikan karena
tidak berwujud dan lebih dipengaruhi oleh budaya.
Mengingat pentingnya sebuah perencanaan dalam penyusunan program sekolah, maka
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan yang telah dilakukan di SMA
Negeri 3 Pekalongan dalam penyusunan sebuah program sekolah. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi sekolah dalam menyusun program sekolah
dengan menggunakan SWOT yang menganalisis faktor internal dan eksternal lingkungan
sekolah masing-masing.
B. METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah
mengetahui perencanaan program sekolah di SMA Negeri 3 Pekalongan. Tempat
penelitian ini berada di SMA Negeri 3 Pekalongan, sedangkan waktu penelitian dimulai
pada awal bulan Desember 2022 dengan tahapan pra observasi dan selanjutnya dilakukan Perencanaan Program Sekolah Untuk Peningkatan
Mutu Pendidikan Di SMA Negeri 3 Pekalongan
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 166
penelitian pada semester genap dimulai dari bulan Januari sampai Mei 2023. Subjek uji
coba dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, Ketua TPMPS, perwakilan guru, dan
tenaga kependidikan yang terkait dengan perencanaan program sekolah di SMA Negeri 3
Pekalongan. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa wawancara, observasi dan
dokumentasi terkait analisis kebutuhan yang diambil dari rapor pendidikan, perencanaan
program sekolah, dan rencana kerja sekolah. Teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik Analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dengan langkah-langkah
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Perencanaan program merupakan suatu proses yang dilakukan guna mempersiapkan
beberapa hal terkait dengan pencapaian maksud dan pengelolaan pendidikan. Perencanaan
program di SMA Negeri 3 Pekalongan mengacu pada pedoman Permendiknas Nomor 19
Tahun 2007 yaitu adanya visi, misi, tujuan sekolah, rencana kerja, serta aspek perencanaan
dan pedoman sekolah. Dua hal yang dikaji dalam penelitian ini adalah potret faktual
perencanaan program sekolah dan potret komponen perencanaan program sekolah. Model
faktual didapatkan melalui hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara
dilakukan dengan kepala sekolah, Ketua TPMPS, perwakilan guru dan tenaga
kependidikan. SMA Negeri 3 Pekalongan melakukan analisis SWOT sebagai awal
perencanaan untuk menyusun dan merumuskan visi dan misi sekolah. Visi sekolah
diharapkan mampu menjadi wadah aktifitas lembaga dalam menghasilkan peserta didik
yang berilmu dan berimtaq yang mampu bersaing dengan perubahan global. Misi sekolah
ditunjukkan secara jelas apa yang hendak dicapai oleh sekolah. Perumusan visi dan misi
SMA Negeri 3 Pekalongan melibatkan stakeholder yang ada di sekolah dan juga komite
sekolah. Visi dan misi dirumuskan berdasarkan analisis SWOT di lingkungan internal dan
eksternal sekolah karena menjadi dasar bagi perumusan visi dan misi harus sesuai dengan
harapan masayarakat. Selanjutnya sekolah merumuskan dan menetapkan tujuan sekolah,
tujuan tersebut menggambarkan arahan yang jelas bagi sekolah. Pencapaian tujuan
dilakukan melalui berbagai perencanaan dan program kegiatan yang dituangkan dalam
Rencana Kerja Sekolah (RKS). Perencanaan dilakukan untuk mengatasi tantangan yang
dihadapi sekolah dan juga meningkatkan mutu sekolah.
Berdasarkan hasil penelitian yang berkaitan dengan Rencana Kerja Sekolah dapat
dideskripsikan bahwa perencanaan program yang ada di sekolah dilakukan melalui
berbagai tahapan mulai dari penyusunan tim oleh kepala sekolah, rapat penyusunan RKAS
bersama tim, dan penyusunan program berdasarkan RKAS. Penyusunan program mengacu
pada Petunjuk Teknis RKAS yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah
sehingga kepala sekolah perlu mencermati terlebih dahulu panduan tersebut dan kemudian
menyusun tim yang akan melakukan perencanaan tersebut. Dalam rapat penyusunan
RKAS yang dilakukan pada bulan Oktober 2022 Kepala sekolah bersama tim yang terdiri
dari wakil kepala sekolah dan tim yang ditunjuk merumuskan rencana anggaran Steffi Dian Kemalasari, Ngurah Ayu Nyoman M., Endang Wuryandini
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 167
berdasarkan Petunjuk Teknis (Juknis) Penyusunan BOP dan BOS dari Provinsi. Masingmasing Wakil kepala sekolah bersama tim mengusulkan rencana program dan anggaran
yang akan dilaksanakan pada tahun mendatang.
Penyusunan program didasari pada hasil rapat penyusunan RKAS yang sudah
dilakukan oleh kepala sekolah dan tim. Setelah mendapat informasi mengenai rencana
program dan anggaran kemudian Bendahara mengolah rencana anggaran yang disesuaikan
dengan juknis. Rencana anggaran dan program yang sudah disetujui oleh Kepala Sekolah
akan diinput oleh bendahara melalui aplikasi SIPERKASA (Sistem Perencanaan Anggaran
Sekolah) untuk pengajuan anggaran BOP dan aplikasi ARKAS untuk pengajuan anggaran
BOS. Jika sekolah sudah mengajukan tinggal menunggu persetujuan dari Dinas
Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
Potret faktual perencanaan program sekolah yang disusun sudah menyesuaikan
dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Sekolah menyusun program dengan melihat acuan
atau regulasi yang terkait, Perencanaan Berbasis Data, dan ekspektasi dari konsumen atau
pelanggan. Dalam pengambilan kebijakan kepala sekolah mengacu pada regulasi yang ada
dengan menyesuaikan ketepatan isi sesuai Juknis dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa
Tengah yang harus diajukan sebelum bulan Desember tahun 2022. Dengan melibatkan tim
yang sesuai dengan perencanaan diharapkan program sekolah yang disusun bisa
memenuhi ekspektasi para pelanggan dan warga sekolah.
Program kerja yang disusun mengacu pada visi, misi dan tujuan sekolah terutama
kegiatan-kegiatan atau program unggulan yang selama ini menjadi primadona sekolah
berbasis kearifan lokal seperti Pagelaran Seni dan Kewirausahaan Batik, Kegiatan Project
P5, Kegiatan Ekstrakurikuler Batik yang disebut Ganesha Art Solidarity (GAS). Waktu
penyusunan disesuaikan dengan petunjuk dari Dinas Provinsi dengan melibatkan tim yang
terdiri dari para Wakil kepala sekolah, perwakilan guru, dan tenaga kependidikan.
Pada pelaksanaannya, penyusunan program sekolah tentu bukan menjadi perkara yang
mudah. Ada beberapa kendala atau hambatan yang ditemui diantaranya adalah tingginya
ekspektasi warga sekolah terhadap program-program sekolah, kurangnya kesadarannya
beberapa pihak terhadap program yang diselenggarakan, dan refleksi tentang
keuangan/finansial yang dari tahun ke tahun semakin berkurang sehingga beberapa
kegiatan harus dipangkas. Selain itu manajemen waktu yang kurang juga menjadi salah
satu kendala dalam penyusunan program sekolah. Tidak lain karena banyak tim yang
harus melaksanakan tugas lain seperti mengajar sehingga perlu waktu khusus untuk
menyusun program sekolah. Referensi dalam penyusunan program yang sangat terbatas
juga menjadi salah satu hambatan dan kurang optimalnya kompetensi tim dalam bekerja.
Kendala-kendala yang ditemui tersebut sesegera mungkin harus dicari jalan keluar
untuk mengatasinya. Salah satu cara dalam mengatasi kendalanya adalah dengan evaluasi
bersama tim, membenahi segala sesuatu yang menjadi kekurangan dalam perencanaan dan
pelaksanaan kemudian menerapkan hasil evaluasi/refleksi tersebut dalam kegiatan. Perlu
juga manajemen waktu yang baik agar semua tim perumus program bisa berkumpul dalam
satu waktu yang bersamaan dan fokus menyusun program sekolah. Strategi yang
dilakukan sekolah agar program yang dirancang sesuai dengan rencana adalah memberi
pemahaman kepada tim penyusun agar tidak salah langkah, merumuskan rencana program Perencanaan Program Sekolah Untuk Peningkatan
Mutu Pendidikan Di SMA Negeri 3 Pekalongan
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 168
yang sesuai dengan juknis, dan memberikan sosialisasi kepada stakeholder atau warga
sekolah. Dalam hal ini sekolah juga turut pemberdayaan dengan membangun mitra,
memadukan program dengan dinas terkait, dan membangun kerja sama dengan pihak
terkait sehingga diharapkan kegiatan bisa berjalan dengan lancar.
Pembahasan
Visi adalah suatu pernyataan tentang gambaran keadaan dan karakteristik yang ingin
dicapai oleh lembaga jauh di masa yang akan datang. Dalam lembaga sekolah/madrasah,
visi merupakan imajinasi moral yang menjadi dasar atau rujukan dalam menentukan
tujuan atau keadaan masa depan secara khusus diharapkan oelh sekolah/madrasah (Ara,
2009). Berdasarkan hasil penelitian, visi tersebut menunjukkan bahwa SMA Negeri 3
Pekalongan menginginkan adanya suatu kondisi dimana sekolah menjadi wadah lembaga
dalam menghasilkan peserta didik berprestasi yang memiliki keimanan, ketaqwaan dan
akhlak mulia serta mampu bersaing dengan perubahan global. Visi SMA Negeri 3
Pekalongan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indoesia Nomor 57 Tahun
2021 Pasal 3 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Pasal 1 ayat 1 tentang Pendidikan
Nasional yakni penyelenggaraan pendidikan diharapkan mampu berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Visi disusun berdasarkan analisis SWOT yang digunakan sebagai perencanaan awal
untuk mengetahui lingkungan internal dan eksternal di SMA Negeri 3 Pekalongan.
Temuan di atas diperkuat oleh pendapat Wiswasta (2018), SWOT adalah metode
perencanaan model, strategis, dan pengembangan usaha yang digunakan untuk
mengevaluasi kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan
ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah
yang membentuk akronim SWOT yang nantinya dibahas dengan menggunakan tabel yang
dibuat dalam kertas besar sehingga dapat dianalisis dengan baik hubungan setiap aspek.
Idealnya visi sekolah yang telah dirumuskan dan ditetapkan perlu ditinjau dan dirumuskan
kembalu sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan dan Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah.
Misi adalah penjabaran visi dalam bentuk rumusan tugas, kewajiban, dan rencana
tindakan yang dijadikan arahan untuk mewujudkan visi. Misi merupakan sesuatu yang
nyata untuk dituju serta dapat pula memberikan petunkuk garis besar cara pencapaian visi.
Menurut Ara (2009) misi adalah kegiatan yang harus dilaksanakan atau fungsi yang
diemban oleh suatu sekolah/madrasah untuk merealisasikan visi yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hasil penelitian, misi SMA Negeri 3 Pekalongan ingin menghasilkan peserta
didik yang berprestasi dan unggul serta dapat bersaing dengan sekolah lain. Misi sekolah
telah terdokumentasi dalam dokumen Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan telah
tersosialisasi kepada warga sekolah.Steffi Dian Kemalasari, Ngurah Ayu Nyoman M., Endang Wuryandini
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 169
Temuan tersebut didukung oleh Calam (2016) yaitu terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam merumuskan misi sekolah antara lain: (1) Pernyataan misi sekolah
harus menunjukan secara jelas mengenai apa yang hendak dicapai oleh sekolah. (2)
Rumusan misi sekolah selalu dalam bentuk kalimat yang menunjukkan “tindakan” dan
bukan kalimat yang menunjukkan “keadaan” sebagai mana pada rumusan visi. (3) Satu
indikator visi dapat dirumuskan lebih dari satu rumusan misi. Antara indikator visi dengan
rumusan misi atau ada keterkaitan atau terdapat benang merahnya secara jelas. (4) Misi
sekolah menggambarkan tentang produk atau pelayanan yang akan diberikan masyarakat
(siswa). (5) Kualitas produk atau layanan yang ditawarkan harus memiliki daya saing yang
tinggi, namun disesuaikan dengan kondisi sekolah. Berdasarkan temuan dan dukungan
teori di atas dapat disimpulkan bahwa misi merupakan tindakan atau upaya untuk
mewujudkan visi. Misi SMA Negeri 3 Pekalongan ingin menghasilkan peserta didik yang
berprestasi dan unggul serta dapat bersaing dengan sekolah lain.
Konsep Rencana Kerja Sekolah (RKS) adalah salah satu komponen dari perencanaan
program sekolah. Rencana kerja sekolah menggambarkan tujuan sekolahyang ingin dicapai
dalam kurun waktu tertentu sebagai dasar pengelolaan sekolah dalam mendukung
peningkatan mutu lulusan merupakan sebuah pendekatan yang sangat strategis. Program
merupakan implementasi dari visi, misi dan tujuan. Perumusan program kerja sekolah
berdasarkanatas perumusan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan yang telah
ditetapkan. Berdasarkan hasil penelitian, program SMA Negeri 3 Pekalongan terdiri dari
program kurikulum, kesiswaan, kehumasan, dan sarana prasarana. Program kurikulum
mencakup pelatihan, seminar, dan pengembangan bagi pendidik dan tenaga kependidikan,
MGMP. Program kesiswaan berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler sepertiOSIS,
Pramuka, Pastiga, PMR, Rohis, Ganesha Art Solidarity (GAS), Olahraga, dan Seni. Sarana
dan prasarana berkaitan dengan pengadaan sumber belajar, buku teks, ruang belajar,
jamban, tempat ibadah dll. Kehumasan mencakup kegiatan internal maupun eksternal
berupa kerja sama dengan pihak ketiga.
Rencana kerja di SMA Negeri 3 Pekalongan belum sepenuhnya menjalankan
kebijakan yang tertuang dalam Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 dimana dalam
perumusan dan penetapannya belum melalui rapat dewan pendidik. Hal ini berdasarkan
pengamatan peneliti terkait dengan dokumen Rencana Pengembangan Sekolah (RPS)
merupakan pedoman operasional dalam mengelola sekolah selama beberapa tahun
terakhir. Penyusunan Rencana Kerja Sekolah kepada kepala sekolah dan tim. SMA Negeri
3 Pekalongan memiliki rencana kerja sekolah untuk jangka menengah (empat tahun),
rencana kerja satu tahun yang mencakup delapan standar nasional pendidikan yang sesuai
dengan pedoman. Temuan diatas diperkuat oleh Peraturan Menteri pendidikan Nasional
Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah dimana sekolah membuat rencana kerja jangka menengah yang
menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu empat tahun yang berkaitan
dengan mutu lulusan yang ingin dicapai dan perbaikan komponen yang mendukung
peningkatan mutu lulusan; Rencana kerja empat tahun dan tahunan disesuaikan dengan
persetujuan rapat dewan pendidik dan pertimbangan komite sekolah/madrasah.
Berdasarkan temuan dan dukungan teori di atas dapat disimpulkan bahwa rencana kerjaPerencanaan Program Sekolah Untuk Peningkatan
Mutu Pendidikan Di SMA Negeri 3 Pekalongan
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 170
sekolah belum sepenuhnya terpenuhi, dalam perumusan RPS yang belum mengacu pada
langkah-langkah secara teoritis, dan secara substansi isi perencanaan program yang
dikembangkan belum disesuaikan dengan kondisi dankebutuhan sekolah.
D. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, perencanaan program yang dilakukan oleh sekolah harus
memperhatikan komponen-komponen yang menyertai penyusunan program sekolah.
Perencanaan program yang ada di sekolah dilakukan melalui berbagai tahapan mulai dari
penyusunan tim oleh kepala sekolah, rapat penyusunan RKAS bersama tim, dan
penyusunan program berdasarkan RKAS. Sekolah menyusun program dengan melihat
acuan atau regulasi yang terkait dengan dinamika perubahan, Perencanaan Berbasis Data,
ekspektasi dari konsumen atau pelanggan dan regulasi anggaran BOS/BOP.
Ada beberapa kendala atau hambatan yang ditemui seperti tingginya ekspektasi warga
sekolah terhadap program-program sekolah, masih ada beberapa pihak yang kurang
kesadaran terhadap program yang diselenggarakan, dan refleksi tentang
keuangan/finansial yang dari tahun ke tahun semakin berkurang sehingga ada beberapa
kegiatan yang harus dipangkas. Salah satu cara dalam mengatasi kendalanya adalah
dengan evaluasi bersama tim, membenahi segala sesuatu yang masih kurang dalam
perencanaan dan pelaksanaan kemudian menerapkan hasil evaluasi/refleksi tersebut dalam
kegiatan.
Disarankan hendaknya dalam penyusunan program sekolah, kepala sekolah
mempertimbangkan segala sesuatunya agar program yang disusun bisa memenuhi
kebutuhan warga sekolah. Berdasarkan hasil penelitian pada tahap pendahuluan ditemukan
bahwa perencanaan program sekolah yang dilakukan oleh tim masih belum sepenuhnya
sesuai dengan panduan penyusunan RKAS sehingga perlu dilakukan pengembangan
model perencanaan program sekolah menggunakan analisis SWOT.Steffi Dian Kemalasari, Ngurah Ayu Nyoman M., Endang Wuryandini
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 171
DAFTAR PUSTAKA
Akdon. (2009). Manajemen Strategik untuk Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Ariyanto, L. (2011). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Model Berjangkar
(Anchored Instruction) Materi Luas Kubus dan Balok Kelas VIII. Aksioma: Jurnal
Matematika Dan Pendidikan Matematika UPGRIS Semarang, 2(2), 1–13.
Aziz Amrullah. (2015). Peningkatan Mutu Pendidikan. Studi Islam, 10(2), 1–14.
Calam, A., & Qurniati, A. (2016). Merumuskan Visi dan Misi Lembaga Pendidikan. Jurnal
Saintikom
Dick, W. and Carey, L. (1990). The Systematic Design of Instruction. (Third ed.). United
States of America : Harper Collins Publishers.
Eddy, H. C. (2020). Implementasi Strategi Berdasarkan Model 7s Mckinsey (Studi Pada
Perusahaan Jasa Boga Cv Century Utama Lestari Jakarta). Universitas Brawijaya.
Malang
Fadhli, M. (2017). Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan. Jurnal Studi Management
Pendidikan, 1(02), 26.
Garnika, E., Rohiyatun, B., & Najwa, L. (2021). Implementasi Analisis Swot dalam
Perencanaan Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Journal Of Administration
and Educational Management (ALIGNMENT), 4(2), 162–169.
https://doi.org/10.31539/alignment.v4i2.3031
Gitosudarmo, H. Indriyo M. (2001). Manajemen Pemasaran. Yogyakarta : Penerbit BPFEYogyakarta.
Hadi, A. (2013). Peningkatan Mutu Lembaga Madrasah. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, XIV(I),
143–158.
Isamuddin, I., Faisal, F., Maisah, M., Hakim, L., & Anwar Us, K. (2021). Implementasi
Analisis Swot Pada Manajemen Strategik Dalam Perencanaan Peningkatan Mutu
Pendidikan Di Madrasah Tsanawiyah Nurul Islam Muara Bungo. Jurnal Manajemen
Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(2), 1034–1050. https://doi.org/10.38035/jmpis.v2i2.770
Kemdikbudristek. (2022). Rapor Pendidikan Indonesia. Kementerian Pendidikan Dan
Kebudayaan Riset Dan Teknologi, 1(1).
Kurniawan, M. A. (2022). Perencanaan Pendididikan | 1. 115.
Lina, Neneng. (2011). Perencanaan Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia
Matin, D. (2013). Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan - Bandung:IPB Press.
Mudiyono, Cipto. (2017). Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Untuk Pembelajaran
Menulis Cerita Pendek Dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) di
Sekolah Dasar Negeri 1 Danasari Tahun Pelajaran 2016/2017. Universitas
Muhammadiyah Purwokerto
Mulyana, D. P. (2016). Identifikasi Potensi Desa Vokasi Bidang Arsitektur Desa Sudalarang
Kabupaten Garut Jawa Barat. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung
Nasional, U. S. P. (1982). Introduction and Aim of the Study. Acta Pædiatrica, 71, 6–6.
https://doi.org/10.1111/j.1651-2227.1982.tb08455.x
Rochman, I. (2019). Analisis SWOT dalam Lembaga Pendidikan (Studi Kasus di SMP Islam
Yogyakarta). Al Iman: Jurnal Keislaman Dan Kemasyarakatan, 3(1), 36–52. Perencanaan Program Sekolah Untuk Peningkatan
Mutu Pendidikan Di SMA Negeri 3 Pekalongan
JMP Vol. 13 No. 1 April 2024 172
http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/aliman/article/view/3527
Setiadi, H. (2014). Dasar-Dasar Teori Perencanaan. Modul 1 Dasar-Dasar Teori
Perencanaan, 1-47.
Setiawan, A dan Saryono, 2011. Metodelogi Penelitian Kebidanan DIII, DIV, SI, dan S2.
Yogyakarta: Nuha Medika
Sodikin, S., & Gumiandari, S. (2022). Analisis SWOT Mutu Evaluasi Pembelajaran. JDMP
(Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan), 6 (1).
https://doi.org/10.26740/jdmp.v6n1.p59-69
Sugiyono. (2022). Metode Pengembangan Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. Bandung: Alfabeta
Sukmadinata, N.S. (2016). Metode Pengembangan Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosdakarya
Suriono, Z. (2022). Analisis SWOT dalam Identifikasi Mutu Pendidikan. ALACRITY : Journal
of Education, 1(20), 94–103. https://doi.org/10.52121/alacrity.v1i3.50
Putri, T. A. (2021). Pengembangan Media Komik Bermuatan Etnosains Dalam Pembelajaran
Ipa Untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa Kelas V Di Sekolah Dasar. STKIP PGRI
PACITAN
Trianto. (2012). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara
Tribus, M. (2010). Total Quality Management in education. In Developing quality systems in
education. https://doi.org/10.4324/9780203423660_chapter_5
Wibowo, A. P. (2015). Transformasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Organisasi Mahasiswa
Guna Meningkatkan Kesadaran Berbangsa Dan Bernegara. Universitas Pendidikan
Indonesia. Bandung
Wiswasta, I. G. N. A., Agung, I. A. A., & Tamba, I. M. (2018). Analisis SWOT (Kajian
Perencanaan Modela, Strategi, dan Pengembangan Usaha).
Zahroh, Aminatul. (2014). Total Quality Management : Teori & Praktik Manajemen Untuk
Mendongkrak Mutu Pendidikan. Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.